Operasi Caesar, Amankah?

Dikirim oleh Evariny A. untuk Seputar Melahirkan
dikunjungi: 27942 kali, 3 hari ini

Seorang perempuan dirujuk bidan ke rumah sakit dengan keterangan persalinannya macet. Dokter jaga yang memeriksa memutuskan operasi caesar karena posisi bayi tidak menguntungkan, sehingga persalinan tidak dapat berlangsung normal. Saat operasi terjadi perdarahan hebat. Bayi berhasil dilahirkan dengan selamat, namun ibunya harus mendapat perawatan intensif dan transfusi darah. Pada hari ke-7 perawatan pascaoperasi ibu meninggal karena komplikasi infeksi berat.

Pada kasus lain, seorang ibu hamil meminta dokter untuk dioperasi caesar karena ingin melahirkan pada hari baik yang telah ditentukan tanpa indikasi medis. Ternyata saat operasi, setelah bayi lahir terjadi keadaan henti jantung dan henti nafas pada sang ibu. Akhirnya ibu meninggal di meja operasi, penyebabnya mungkin adalah emboli air ketuban yang masuk dalam pembuluh darah ibu saat operasi.

Contoh-contoh di atas kadang terjadi di masyarakat. Saat ini operasi caesar menjadi tren karena berbagai alasan. Dalam dua puluh tahun terakhir, angka operasi caesar meningkat pesat. Semakin modern alat penunjang kesehatan, semakin baik obat-obatan terutama antibiotik, dan ting-ginya tuntutan terhadap dokter, menunjang meningkatnya angka operasi caesar di seluruh dunia.

Tidak banyak yang mempertanyakan, sebenarnya mana yang lebih aman antara persalinan normal atau per vaginam (melewati jalan lahir normal/vagina) dengan operasi caesar?

Susahnya permintaan ibu-ibu hamil melahirkan melalui operasi saja hanya karena tidak tahan sakit,permintaan suami, atau demi hari baik, sering diluluskan oleh dokter kebidanan. Padahal sebelum seseorang setuju atau meminta dilakukannya suatu operasi, sebaiknya pasien mengetahui untung-rugi,risiko, dan komplikasi yang mungkin terjadi saat dan pascaoperasi.

OPERASI caesar atau sering disebut seksio sesarea itu adalah melahirkan janin melalui sayatan dinding perut (abdomen) dan dinding rahim (uterus). Terminologi asli seksio sesarea sudah diperdebatkan sejak 200 tahun lalu. Salah satunya dikemukakan Rousset 1581 pada buku tentang persalinan dengan bedah caesar berjudul Trainte, Nouveau Day Lhysterotomotokie ou LEnfantement Cesarien. Ini diikuti Jacques Guillimeau yang menyebut tipe melahir-kan itu sections pada 1598. Kombinasi dari kedua istilah itulah yang kini dikenal sebagai cesarean section.

Seksio sesarea (operasi caesar) berkembang sejak akhir abad 19 sampai tiga dekade terakhir abad 20. Selama periode itu sudah terjadi penurunan angka kematian ibu dari 100 persen menjadi 2 persen. Selain itu ada tiga perkembangan penting dari tehnik operasi.

Pertama, perkembangan metode penjahitan rahim dengan benang untuk menghentikan perdarahan. Kedua,perkembangan dari cara tindakan yang aseptik dan ketiga perubahan dari insisi/sayatan pada rahim dari cara klasik menjadi sayatan melintang pada segmen bawah rahim (uterus).

Pada beberapa penelitian terlihat bahwa sebenarnya angka kesakitan dan kematian ibu pada tindakan operasi caesar lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan per vaginam. Ini berdasar definisi kematian maternal/kematian ibu: kematian seorang ibu selama kehamilan dan atau dalam 42 hari setelah persalinan yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh kehamilannya.

Angka kesakitan ibu/morbiditas adalah jumlah ibu yang menderita gangguan fungsi yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan kehamilannya atau persalinannya. Hal ini dapat dilihat pada data yang diambil dari beberapa penulis mengenai risiko mortalitas dan letalitas pada persalinan dengan operasi caesar dan persalinan per vaginam.

MENURUT Bensons dan Pernolls, angka kematian pada operasi caesar adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan risiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan per vaginam. Malahan untuk kasus karena infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan per vaginam. Komplikasi tindakan anestesi sekitar 10 persen dari seluruh angka kematian ibu. Komplikasi lain yang dapat terjadi saat tindakan operasi caesar dengan frekuensi di atas 11 persen antara lain: cedera kandung kemih, cedera pada rahim, cedera pada pembuluh darah, cedera pada usus dan dapat pula cedera pada bayi.

Pada operasi caesar yang direncanakan angka komplikasinya kurang lebih 4,2 persen. Operasi caesar darurat berangka kurang lebih 19 persen.

Setiap tindakan operasi caesar punya tingkat kesulitan berbeda-beda. Pada operasi kasus persalinan macet dengan kedudukan kepala janin pada akhir jalan lahir misalnya, sering terjadi cedera pada rahim bagian bawah atau cedera pada kandung kemih (robek). Dapat juga pada kasus bekas operasi sebelumnya-dimana dapat ditemukan perlekatan organ dalam panggul-sering menyulitkan saat mengeluarkan bayi dan dapat pula menyebabkan cedera pada kandung kemih dan usus. Cedera ini tak jarang cukup berat.

Walau pun jarang tetapi fatal adalah komplikasi emboli air ketuban yang dapat terjadi selama tindakan operasi, yaitu masuknya cairan ketuban ke dalam pembuluh darah terbuka yang disebut sebagai embolus. Jika embolus mencapai pembuluh darah pada jantung, timbul gangguan pada jantung dan paru-paru dimana dapat terjadi henti jantung dan henti nafas secara tiba-tiba. Akibat-nya adalah kematian mendadak pada ibu.

Komplikasi lain yang dapat terjadi sesaat setelah operasi caesar adalah infeksi yang banyak disebut sebagai morbiditas pascaoperasi. Kurang lebih 90% dari morbiditas pascaoperasi disebabkan oleh infeksi (infeksi pada rahim/endometritis, alat-alat berkemih, usus, dan luka operasi).

Tanda-tanda infeksi antara lain demam tinggi, perut nyeri, kadang-kadang disertai lokia berbau, nyeri bila buang air kecil, luka operasi bernanah, luka operasi terbuka dan sepsis (infeksi yang sangat berat). Bila mencapai keadaan sepsis, risiko kematian ibu akan tinggi sekali.

Hal-hal yang memudahkan terjadinya (faktor predisposisi) komplikasi antara lain persalinan dengan ketuban pecah lama, ibu menderita anemia, hipertensi, sangat gemuk, gizi buruk, sudah menderita infeksi saat persalinan, dan dapat juga disebabkan oleh penyakit lain pada ibu seperti ibu penderita diabetes mellitus (sakit gula). Antibiotik profilaksis dapat menurunkan terjadinya risiko infeksi pada operasi.

FRIGOLETTO dkk 1980 melaporkan, di Boston Hospital for Women angka kematian ibunya nol pada 10.231 kasus. Tetapi mereka juga mengemukakan bahwa angka kematian dan kesakitan lebih tinggi pada persalinan dengan operasi caesar dibanding persalinan per vaginam, karena ada peningkatan risiko yang berhubungan dengan proses persalinan sampai pada keputusan dilakukan operasi caesar. Misalnya pada ibu yang dioperasi caesar karena eklampsia (keracunan kehamilan yang mengakibatkan kejang), risiko kematian akan tinggi karena risikonya meningkat, baik akibat kejang ataupun operasinya sendiri.

Kematian ibu akibat risiko operasi caesar itu sendiri menunjukkan angka 1 per 1.000 persalinan. Di Amerika Serikat pada tahun 1965 sampai dengan 1978 dilaporkan bahwa angka kematian ibu terjadi satu di antara 1.635 operasi (Petitti 1983), dan ditegaskan bahwa hanya setengah dari kematian tersebut benar-benar disebabkan langsung dari operasi caesar.

Sebagai contoh tahun 1988 Sachs melaporkan, penyebab langsung hanya 7 dari 27 kematian pada lebih dari 121.000 kasus operasi caesar yang dilakukan di Massachusetts tahun 1976-1984. Meskipun ada yang menyebutkan angka kematian ibu adalah 22 per 100.000 untuk seluruh kasus operasi caesar, untuk kematian langsung akibat operasi ini hanya 5,8 per 100.000 kasus.

Meskipun angka ini rendah, jika terjadi pada perempuan hamil yang sehat dan sebetulnya tidak memerlukan tindakan operasi akan menjadi hal yang ironis.

KEMATIAN atau kesakitan yang terjadi pada bayi baru lahir pada operasi Caesar, bergantung dari faktor-faktor yang mendasari alasan tindakan operasi. Memang pada beberapa daerah di Amerika Serikat terjadi penurunan angka kematian bayi akibat meningkatnya tindakan operasi di beberapa rumah sakit. Namun O‘Driscoll dan Foley (1983) menyebutkan, di Dublin terjadi penurunan angka kematian bayi baru lahir tanpa adanya kenaikan angka operasi Caesar. Memang ada pendapat bahwa trauma lahir jauh lebih kecil pada operasi caesar dibanding persalinan per vaginam, akan tetapi tetap harus diingat bahwa operasi caesar berisiko pada ibunya.

Jumlah operasi caesar telah meningkat tajam 20 tahun terakhir. Operasi ini kadang-kadang terlalu sering dilakukan sehingga para kritikus menyebutnya sebagai panacea (obat mujarab) praktek kebidanan.

Kembali yang perlu diingat adalah apakah risiko pada ibu dan bayi dengan operasi caesar sebanding dengan hasil yang didapat? Karena itu tantangan utama dari tindakan kebidanan adalah menjawab pertanyaan Williams ini. “Dapat-kah penurunan angka operasi caesar secara signifikan tercapai tanpa menaikkan angka kematian ibu dan bayi?”

Sumber :
Kompas
dr JM Seno Adjie SpOG
Staf Pengajar Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Share

Leave a Reply