Masa Kegelapan Pascamelahirkan

Dikirim oleh Evariny A. untuk Sindrom Pasca Melahirkan

Aruni, anak pertama Melati (29), sudah berusia satu tahun. Namun Melati masih sering merasa bayi itu tiba-tiba terlepas dari pelukannya saat Melati berdiri di ketinggian. Padahal dia tidak sedang menggendongnya. Namun Melati merasa bayangan itu adalah kenyataan.

Kalau perasaan itu datang, keringat dinginnya mengalir. Tak mudah bagi Melati menghilangkan bayangan mengerikan itu meski hal mengerikan lainnya sudah ia lewati.

“Waktu Aruni masih lebih kecil, saya sering membayangkan ada pisau menancap di perutnya,” ujar Melati. Bayangan tentang pisau yang menancap di perut sebenarnya sudah mulai mengganggu ketika usia kandungannya semakin tua.

Perasaan tidak menentu menyertai Melati seusai kelahiran Aruni. Yang dominan, rasa ingin marah terus. “Saya kasihan pada suami karena ia sudah berusaha keras untuk membantu, termasuk bangun malam. Tapi sedikit saja kekeliruan bisa membuat saya meledak,” kenang Melati.

Tak jarang Melati merasakan banyak kekhawatiran; khawatir tak bisa menjadi ibu yang baik dan lain-lain. Juga rasa sedih yang tak tentu sebab. Kadang ia merasa berada di padang luas tanpa batas. Sendirian. Sunyi. Perasaan kosong yang teramat dalam, yang tak pernah bisa ia bagi kepada siapa pun.

Meski tidak separah Melati, Sally Dwi Anda (35) merasakan sebagian hal yang sama. Seminggu setelah melahirkan, Sally mengalami rasa sedih berlebihan.

Padahal orang-orang terdekatnya, seperti orangtua dan suami, sangat mendukungnya. Setiap malam, Guirino, sang suami, ikut mengganti popok anaknya yang basah. “Gue bangun tinggal kasih susu ke Sheila saja,” ujarnya.

Banyak perempuan mengalami perasaan berubah-ubah secara ekstrem (mood swings) pascamelahirkan. Semua perempuan berpotensi mengalaminya, termasuk aktivis yang tercerahkan dengan suami yang sungguh-sungguh sangat mendukung.

“Waktu melahirkan Bram, sampai usia enam-tujuh bulan, saya punya perasaan aneh. Pada suami saya, saya sering bilang, ’Benda apa sih ini yang bisanya nangis, kencing, dan pup.’ Padahal suami saya yang mengurus bayi itu, bahkan suami yang menyodorkan bayi itu untuk saya susui,” kenang Ranti (43) saat melahirkan anak pertamanya, Bram, kini 19 tahun dan sudah kuliah.

Ririe (32) mengalami hal sama. Setelah melahirkan, ia merasa semua beban keluarga ditimpakan kepadanya. Kesedihan yang luar biasa sering ia rasakan, terutama kala menatap anaknya yang sedang tidur. Muncul perasaan ia tidak mampu memberikan yang terbaik untuk Rheesa (enam bulan).

Beban psikologis itu terasa semakin berat ketika Paskalis, suami Ririe, tidak banyak membantu setelah Ririe melahirkan. Berbeda dengan suami Melati, Sally, dan Ranti, suami Ririe tertidur pulas ketika Ririe bangun tengah malam untuk mengganti popok anaknya. Padahal sebelumnya ia berharap sang suami bisa membantu karena jam kantornya siang.

Pagi hari, suaminya juga tidak mau membawa anaknya jalan-jalan atau berjemur mendapatkan sinar matahari. “Setelah ngomel, suami saya baru mau,” lanjut Ririe.

Kalau perasaan negatif itu datang, Ririe mengaku sering menangis tersedu-sedu di depan anaknya yang tertidur pulas. Dengan menangis, Ririe memeluk anaknya sambil minta maaf.

Selama lebih tiga bulan Ririe mengalami gejolak emosi yang sangat tidak stabil. Terkadang ia merasa bahagia dianugerahi seorang anak, lalu muncul kesedihan yang luar biasa. Ia juga merasa kebebasan dan privasinya sangat berkurang karena waktunya habis untuk mengurus anak.

Padahal, selama masa kehamilan, Ririe sudah mempersiapkan secara matang perawatan anak pertamanya yang akan lahir. Ia membaca semua buku menjelang kelahiran anak pertamanya itu. Ririe yang tinggal jauh dari mertua dan orangtua merasa sudah siap mental untuk mengasuh dan merawat bayi.

Namun perkiraannya meleset. Setelah melahirkan, secara teknis Ririe memang tidak canggung lagi merawat dan mengasuh anaknya. Akan tetapi tidak secara psikologis. Petunjuk “ilmu” yang ia pelajari dari buku ternyata tidak mendapat dukungan dari lingkungan terdekatnya. Pengasuh bayi yang ikut merawat Rheesa tidak mau mendengarkan saran-saran Ririe.

“Padahal aku ingin agar Rheesa mendapatkan perawatan yang sempurna,” ungkap Ririe. Ia pun menjadi lebih sering ngomel.

Pencetusnya beragam

Kondisi psikologis Melati, Sally, dan Ririe seusai melahirkan memperlihatkan bahwa proses melahirkan tidak sederhana, apalagi kalau mengalami proses persalinan yang rumit.

Akan tetapi, tak banyak yang memerhatikan berbagai faktor yang dapat membuat perempuan mengalami gangguan kejiwaan atau depresi pascamelahirkan. Beberapa di antaranya bahkan dapat berakibat fatal. Rasa bahagia ketika mendapatkan bayi bukanlah jaminan semuanya akan baik-baik saja.

Melati sempat sekali keguguran sebelum mendapatkan Aruni. Namun rasa bersalah terus menghantuinya. “Saya berada pada situasi bimbang menerima kehadirannya karena saya baru berada dalam masa percobaan di kantor.”

Rasa bersalah itu belum hilang ketika Melati hamil lagi. Sepanjang kehamilannya, kondisi psikologisnya tidak benar-benar baik. Ketika Aruni lahir dengan sedikit gangguan pada kulitnya—setelah beberapa bulan, kulit Aruni kembali mulus— Melati merasa tidak menjaga kandungannya dengan baik.

Perasaan bersalah itu seperti memperoleh penegasan dari orangtua, dengan komentar-komentar yang sebenarnya ia pahami sebagai bukan kesengajaan. Perasaannya semakin tak keruan ketika harus berjuang keras agar ASI-nya keluar.

“Aruni nangis terus. Orangtua saya menganjurkan agar ia dikasih susu formula. Tapi saya hanya mau ASI eksklusif,” ujar Melati. “Saya sempat bilang ke anak saya, ’Kok kamu enggak mau ngerti sih.’”

Rasa sakit yang luar biasa pada proses kelahiran bisa menjadi salah satu faktor pencetus. Seperti Sally yang mengalami proses panjang dan rumit (sempat diinduksi beberapa kali, ketubannya pecah sementara rahimnya belum mengalami proses pembukaan, tekanan darahnya naik) sebelum dokter yang menanganinya memutuskan agar ia dioperasi cesar.

Perjuangan berat saat melahirkan membawa dampak psikologis yang cukup berat bagi Sally. Setelah melahirkan, Sally harus istirahat total satu minggu. Dalam keadaan sakit, ia masih harus berjuang lagi untuk menyusui anaknya. Namun ia merasa sangat beruntung karena ada ibu yang terus mendampinginya. Dengan bantuan sang ibu, Sally berlatih menyusui anaknya.

Rasa sakit setelah melahirkan membuat mentalnya semakin terpuruk. Sally yang merasa tidak berdaya sering menangis sendirian di depan anaknya. Tangisnya menjadi-jadi saat menatap wajah anaknya yang sedang tidur. Meski demikian, ia tidak mampu melukiskan perasaan apa yang sebenarnya berkecamuk di hatinya.

Juga muncul perasaan ia tak mampu menjadi ibu yang baik bagi Sheila (5 tahun). Sally menganggap yang ideal adalah ibu yang bisa mengurus dan merawat anaknya secara mandiri setelah melahirkan. “Ternyata gue enggak bisa ngapa-ngapain,” ujarnya.

Perasaan itu mereda seiring dengan hilangnya rasa sakit akibat operasi secara berangsur-angsur. Ia menjadi lebih percaya diri karena sudah bisa merawat sendiri anaknya.

Ketika melahirkan anak keduanya, Danar (10 bulan), Sally merasa lebih tenang. Padahal proses kelahiran Danar juga rumit. Sally harus kembali dioperasi. Danar juga lebih rewel. Namun perasaan negatif yang pekat setelah kelahiran Sheila tidak muncul lagi.

Ririe yang paham bahwa ia terserang depresi pascamelahirkan mencoba melepaskan keruwetan pikirannya dengan membuka diri untuk percaya kepada orang lain dan menyadari bahwa ia perlu bantuan.

Ia tidak lagi memaksa tata cara yang ia bakukan dalam pola perawatan anaknya kecuali untuk urusan psikologis. Ririe juga memaparkan perasaannya kepada suaminya. Tanpa diduga, suaminya memberikan dukungan penuh dan membantu dengan sungguh-sungguh agar istrinya bisa lebih santai.

Karena Rheesa sudah dapat beradaptasi dengan pengasuhnya, Ririe juga bisa mengambil kembali ruang privasinya. Setelah kembali bekerja, ia menyempatkan diri berenang dan tenis. Dia percaya, olahraga akan menghilangkan emosi negatif dan kembali memunculkan rasa percaya diri.

Situasi itu sangat berbeda dengan Melati. Sebagai intelektual, Melati juga tahu ia mengalami depresi pascamelahirkan yang banyak disebut sebagai baby blues.

Namun ia tidak membagikan penderitaan itu pada siapa pun; tidak pada orangtuanya, tidak pada suaminya. “Takut dianggap yang enggak-enggak,” ujarnya singkat. Ia juga belum pernah menghubungi psikolog untuk berkonsultasi.

“Saya berusaha menjauhkan diri dari faktor pencetus,” sambung Melati mengenai upayanya meringankan beban perasaannya. Faktor pencetus itu antara lain berada di ketinggian dan benda-benda tajam.

Sayangnya, Melati tak bisa sungguh-sungguh melepaskan bebannya. Ia jarang bisa benar-benar bersantai. Malah membiarkan dirinya larut dalam pekerjaan, membuatnya mengalami depresi yang lain.

Sumber: Kompas – Minggu, 02 Juli 2006

Leave a Reply