Gangguan Kehamilan Bisa Terjadi Mendadak

Dikirim oleh Evariny A. untuk Seputar Kehamilan
dikunjungi: 15418 kali, 1 hari ini

Kebanyakan kehamilan berakhir dengan persalinan dan masa nifas yang normal. Tapi 15-20 diantara 100 ibu hamil mengalami gangguan pada kehamilan, persalinan atau nifas.

Gangguan tersebut dapat terjadi secara mendadak dan biasanya tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Karena itu, setiap ibu hamil, keluarga dan masyarakat perlu mengetahui dan mengenali tanda-tanda bahaya tersebut. Tujuannya, agar mereka bisa segera mencari pertolongan ke bidan, dokter, atau langsung ke rumah sakit untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayinya.

Menurut informasi yang dikeluarkan oleh Direktoran Bina Kesehatan Keluarga bekerjasama dengan Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Depkes dan Kesos, Tim Penggerak PKK Pusat dan Kantor Perwakilan WHO di Jakarta, tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas adalah gejala yang menunjukkan bahwa ibu atau bayi dalam keadaan bahaya. Biasanya ibu perlu segera mendapat pertolongan di rumah sakit.

Ada 10 tanda bahaya yang perlu dikenali :

1. Ibu hamil tidak mau makan dan muntah terus.
2. Berat badan ibu hamil tidak naik.
3. Perdarahan.
4. Bengkak tangan/wajah, pusing, dan dapat diikuti kejang.
5. Gerakan janin berkurang atau tidak ada.
6. Kelainan letak janin di dalam rahim.
7. Ketuban pecah sebelum waktunya.
8. Persalinan lama.
9. Penyakit ibu hamil yang berpengaruh terhadap kehamilan.
10. Demam tinggi pada masa nifas.

Kebanyakan ibu hamil sering merasa mual dan kadang-kadang muntah pada usia kehamilan 1-3 bulan. Keadaan ini normal dan akan hilang dengan sendirinya pada kehamilan lebih dari tiga bulan. Tapi bila ibu tetap tidak mau makan, muntah terus-menerus, sampai lemah dan tidak dapat bangun, maka keadaan ini berbahaya bagi janin dan kesehatan ibu.

Selama kehamilan, berat badan ibu naik sekitar 9-12 kg. Karena adanya pertumbuhan janin dan bertambahnya jaringan tubuh akibat kehamilan. Kenaikan berat badan ini biasanya terlihat nyata sejak kehamilan empat bulan sampai menjelang persalinan.

Bila berat badan ibu hamil tidak naik pada akhir bulan keempat kehamilan atau kurang dari 45 kg pada akhir bulan keenam, pertumbuhan janin mungkin terganggu. Pada kondisi tersebut ibu mungkin mengalami kekurangan gizi atau mempunyai penyakit lain, seperti batuk menahun atau malaria.

Penyebab kematian ibu hamil tersering adalah akibat perdarahan. Perdarahan melalui jalan lahir pada kehamilan, persalinan dan nifas sering merupakan tanda bahaya yang dapat berakibat kematian ibu dan/atau janin.

Perdarahan melalui jalan lahir pada kehamilan sebelum tiga bulan bisa disebabkan oleh keguguran. Janin mungkin masih dapat diselamatkan. Bila tidak, ibu perlu mendapat pertolongan medis agar kesehatannya terjaga.

Perdarahan melalui jalan lahir disertai nyeri perut bawah yang hebat, pada ibu yang terlambat haid 1-2 bulan, merupakan keadaan sangat berbahaya. Kehidupan ibu terancam dan harus langsung dibawa ke rumah sakit untuk diselamatkan jiwanya.

Sedangkan perdarahan pada kehamilan 7-9 bulan, meskipun hanya sedikit, tetap merupakan ancaman bagi ibu dan janin. Sedangkan perdarahan yang banyak, segera atau dalam waktu satu jam setelah melahirkan, sangat berbahaya, dan menjadi penyebab kematian dalam waktu kurang dari dua jam. Tanda bahaya lain adalah perdarahan pada masa nifas, yaitu dalam waktu 42 hari setelah melahirkan. Perdarahan tersebut biasanya berlangsung terus menerus, disertai bau tak sedap dan demam.

Gejala lain yang harus diwaspadai adalah bengkak di tangan atau wajah. Apalagi bila disertai tekanan darah tinggi dan sakit kepala. Bila keadaan ini dibiarkan, ibu berisiko mengalami kejang-kejang. Keadaan ini disebut keracunan kehamilan atau ekslamsia.

Kemudian ada beberapa penyakit yang merugikan kehamilan. Yaitu penyakit jantung, ditandai dengan ibu sering berdebar-debar dan mudah sesak napas bila melakukan kegiatan ringan sehari-hari. Penyakit lain adalah kurang darah (anemia) akut, ditandai dengan gejala pucat, lesu, lemah, pusing dan sering sakit. Juga penyakit TBC, malaria dan infeksi pada saluran kemih, yang gejalanya tidak selalu nyata, misalnya keputihan, luka atau nyeri pada alat intim wanita.

Gejala-gejala yang membahayakan ibu hamil ini bisa dihindari bila keluarga dan masyarakat sama-sama mengawasi kehidupan ibu hamil tersebut. Inilah yang merupakan salah satu alasan diluncurkan kembali kampanye Suami Siaga (Siap, Antar, Jaga) dengan daerah sasaran wilayah Jawa Barat. Tujuan utamanya untuk mengajak para suami dan masyarakat untuk berpartisipasi menjaga kesehatan ibu hamil, sejak awal kehamilan hingga paska kehamilan. [RAS]

Sumber:
Reporter/Penulis: Ratih Sayidun
http://www.mandiri.com

Share

Leave a Reply