Jangan Abaikan Gejalanya – Depresi pasca melahirkan

Dikirim oleh Evariny A. untuk Sindrom Pasca Melahirkan
dikunjungi: 6465 kali, 1 hari ini

Proses kehamilan dan melahirkan dari pandangan psikologi kedokteran merupakan peristiwa yang paling rumit dalam pengalaman manusia. Begitu ditegaskan ahli perkembangan anak dan pengamat psikologi perempuan, Dr Irwanto. “Itu merupakan pengalaman khas perempuan,” tegas Kepala Lembaga Penelitian Atmajaya Jakarta itu.

Seusai melahirkan, perempuan rentan terserang seluruh spektrum gangguan kejiwaan umum akibat perubahan fisik dan psikologis dari proses melahirkan.

Faktor endokrin diduga berperan dalam etiologi depresi pascamelahirkan. Dalam kurun 1 sampai 42 hari setelah melahirkan, terjadi perubahan hormon estrogen dan progesteron yang sangat berarti.

“Menurut penelitian, inilah yang menyebabkan terjadinya perasaan yang berubah-ubah secara ekstrem (mood swings) pada perempuan,” ujarnya.

Situasi itu pada orang-orang yang pernah mengalami insiden depresi dapat berlanjut menjadi depresi dan lebih jauh, psikosis.

Gejala depresi yang paling umum pascamelahirkan adalah perasaan kosong yang luar biasa (emptiness), diikuti dengan perasaan lainnya seperti kehilangan nafsu makan, raibnya kesenangan dalam hidup, energi dan motivasi, perasaan tidak berguna, tidak berharga, banyak menangis, tanpa harapan dan rasa bersalah yang keterlaluan, dan ketakutan yang luar biasa bayinya akan tersakiti atau disakiti orang lain.

Dari data penelitian, gejala itu terjadi pada 15-20 persen persalinan.

“Kalau sampai ke psikosis sangat berbahaya karena ditambah halusinasi. Ada dorongan dan suara-suara yang tidak bisa dikendalikan sehingga ibu dapat melakukan sesuatu yang membahayakan bayinya,” ujarnya. Data penelitian menunjukkan hal ini terjadi pada 1,5 sampai 3 persen persalinan.

Bisa lama

Meski pada banyak perempuan gejala-gejala itu terjadi dalam waktu yang relatif singkat, pada beberapa lainnya depresi itu bisa berlangsung sampai lebih dari satu tahun setelah melahirkan.

Kondisi psikologis yang disebut sebagai the maternity blues, the baby blues, depresi pascakelahiran dan psikosis pascakelahiran, menurut Irwanto, dapat disembuhkan begitu diketahui gejalanya. Caranya antara lain dengan menceritakan apa yang dialami kepada orang-orang terdekat, juga kepada dokter, untuk konsultasi yang dibutuhkan.

“Sulitnya, banyak perempuan tidak mudah berbicara pada orang lain mengenai apa yang ia rasakan. Karena tidak dianggap serius, biasanya didiamkan saja,” ujar Irwanto.

Berbagi pekerjaan dalam perawatan anak, menulis buku harian, dan mencari kelompok pendukung adalah hal lain yang bisa dilakukan.

Hal lainnya adalah jangan terjebak pada perasaan “baik-baik” saja, karena kelahiran seorang bayi memang membawa perubahan. Menjadi orangtua juga bukan hal yang mudah.

Upayakan untuk tidak marah pada diri sendiri ketika belum mampu merawat bayi dengan baik. Jangan terlintas untuk menjadi “supermom”, dan jujur tentang apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan sendiri.

Banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya depresi pascamelahirkan. Di antaranya, depresi sebelum melahirkan, depresi yang tidak terkait dengan kehamilan, sindroma premenstruasi yang berat, perkawinan yang sulit, tak banyak anggota keluarga yang bisa diajak bicara, dan kehidupan penuh tekanan selama masa kehamilan dan melahirkan. (MH)

Sumber: Kompas – Minggu, 02 Juli 2006

Share

Leave a Reply