Ramal Proses Persalinan Anda

Dikirim oleh Evariny A. untuk Seputar Melahirkan
dikunjungi: 3395 kali, 3 hari ini

Waswas menghadapi proses persalinan? Tenang…. Ikuti saja diagram berikut untuk mengetahui kecenderungan proses persalinan Anda.

“ Kok , nggak operasi saja sih , Dok?” Pertanyaan itu sering kita lontarkan, tanpa tahu benarkah kita perlu operasi atau tidak. Memang, kita berhak memilih proses persalinan yang sesuai keinginan kita. Tapi, kondisi janin maupun kehamilan yang seringkali tak terduga, akan membuat kita menjalani penanganan persalinan dengan proses tertentu.

Tergantung kondisi kehamilan

Siapa pun tentu ingin punya anak sehat, lahir lancar, kalau bisa tanpa rasa sakit. Sayangnya, keinginan tak selalu beriringan dengan kenyataan. Sebab, bisa saja anak yang dikandung normal, pemeriksaan selama hamil berjalan lancar, tapi saat persalinan tiba, secara mendadak timbul masalah. Misalnya saja, tidak terjadi kontraksi. Maka, si ibu perlu diinduksi atau dirangsang agar timbul kontraksi.

Pasti lancar? Ternyata, belum pasti juga. Kontraksi sudah ada, jalan lahir sudah terbuka, tapi bayi bisa saja tak kunjung keluar. Penyebabnya macam-macam, antara lain:

* Si ibu sudah tak kuat mengejan lagi.
* Si ibu memang tak bisa mengejan, misalnya karena gangguan asma.
* Si Ibu tak boleh mengejan, misalnya karena tekanan darah tinggi.
* Keadaan gawat janin, misalnya si kecil tak bisa turun karena tali pusatnya melilit dan pendek.

Kalau sudah begini, bayi akan lama berada di dasar panggul. Jika tak segera dibantu dengan alat, risiko yang akan dialami oleh bayi menjadi lebih besar lagi. Itu sebabnya, dalam kondisi seperti ini dokter akan segera melakukan tindakan bantuan berupa penarikan bayi dengan forcep (alat yang berbentuk dua bilah daun, ditangkupkan di kepala bayi untuk menarik bayi keluar), atau dengan vakum (alatnya berbentuk pompa pengisap yang diletakkan di kepala bayi untuk menarik bayi keluar).

Kenapa diinduksi?

Ketika waktu persalinan yang diperhitungkan sudah lewat dan tak ada tanda-tanda akan terjadi persalinan, dokter biasanya akan memberikan induksi, yaitu rangsangan (stimulasi) agar tanda persalinan muncul. Induksi dilakukan untuk kepentingan janin maupun ibu.

• Kepentingan bagi janin : keberadaan janin di dalam rahim yang terlalu lama (postmaturitas) akan membahayakan kondisinya. Hal ini antara lain karena fungsi plasenta akan menurun sehingga meracuni janin.

• Kepentingan bagi ibu : terhindar dari masalah yang dapat membahayakan nyawa ibu, seperti kematian janin dalam rahim.

Induksi dapat dilakukan dengan cara pemberian obat-obatan, atau dengan memecahkan kantung ketuban. Biasanya, setelah induksi dilaksanakan, maka proses persalinan akan mulai. Pasien akan merasakan kontraksi rahim, sampai bayi lahir dengan lancar.

Namun, ada kalanya setelah diinduksi pun proses persalinan belum berjalan lancar. Dokter biasanya akan menentukan kapan induksi harus diulang, yang berarti proses persalinan melalui vagina diteruskan. Atau, proses persalinan perlu dilakukan dengan operasi. Yang jelas, selama diinduksi, pasien harus selalu dipantau, baik untuk mengawasi kondisi janin maupun ibunya.

Tak selalu perlu operasi

Pasien berhak memilih apa tindakan yang diinginkannya, sepanjang tidak membahayakan dirinya. Namun, dokter juga wajib memberitahu risiko yang mungkin dialami pasiennya. Pada kehamilan normal, di mana janin dan ibu dalam kondisi baik, maka operasi biasanya tidak dianjurkan dokter.

Asal tahu saja, operasi caesar sebenarnya hanya membantu mengeluarkan bayi tidak melalui jalan lahir. Bahkan, proses pemulihan pada operasi caesar relatif lebih lama dari proses persalinan biasa. Itu sebabnya, biasanya operasi baru akan dilakukan bila proses persalinan mengancam jiwa ibu dan/atau janinnya.

Retno Wahab Supriyadi
Konsultasi ilmiah: dr. Dwiana Ocviayanti Idrus, Sp.OG, POGI Jaya, Divisi Sitopatologi, Departemen Obstetri & Ginekologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

sumber : http://www.ayahbunda-online.com/

Share

Leave a Reply