Perjuangan ASI Ekslusif

Dikirim oleh eira aurelia untuk Kisah Menyusui Seputar ASI

Seneng deh berbagi pengalaman dengan para ibu menyusui yang lain, karena bisa dikatakan “ibu asi ekslusif” itu masih dipandang aneh oleh sebagian orang, bahkan di kantorku..macam-macam komentar yang mereka keluarkan…”ngapain sih repot-repot begitu”…”apa steril tuh”…”ah anakku yang kena colostrum aja ternyata bisa sakit juga”…”emang anaknya mau jadi jendral ya”…”kasian dong anaknya kalo gak ditambah susu formula” dan berbagai komentar yang membuat hatiku trenyuh karena ternyata negara kita ini belum ramah asi ya.

Pada 3 Desember 2006 aku melahirkan Rashaun Al-Ghifari Silalahi melalui proses caesar, yang sempat mengalami induksi juga, bayiku lahir dengan berat 3,9 kg dan panjang 50 cm. Dari masa kehamilan aku sudah banyak menggali info tentang asi, sehingga menguatkan hatiku paling tidak akan memberi asi ekslusif selama 3 bulan.

Beberapa hari pertama di rumah sakit asi-ku tidak bisa keluar banyak, sudah dipompa dengan pompa manual tapi gagal, sedangkan si kecil selalu menjerit-jerit terus karena nafsu makannya memang besar…para suster sudah menawarkan susu formula yang akan diberikan kepada bayiku, tapi aku menolak karena aku tahu bayi yang baru lahir sanggup bertahan 2 hari tanpa makan-minum karena masih ada cadangan makanan dari masa kehamilan…mamaku sudah memohon-mohon agar aku mau memberi tambahan formula karena si kecil tak henti2 menjerit2…tapi pada saat bayiku dinyatakan kuning dan kekurangan cairan…rasanya aku down sekali…merasa tidak sanggup memberikan yang terbaik buat si kecil…dengan terpaksa aku merelakan 2 hari dari hidupnya “tercemar” susu formula..

Alhamdullilah pupil mata anakku kembali putih yang menandakan ia telah cukup cairan….sejak itu aku berusaha kembali memberikan asi ekslusif…satu setengah bulan pertama merupakan cobaan berat…bayiku terus menyusu tiap 30 menit…atau kalau tidak ia akan menyusu berjam-jam sampai aku tidak bisa turun dari tempat tidur untuk makan….akhirnya aku pergi ke pijat bayi…lumayan lah si kecil bisa tidur satu jam setelah menyusu…

Saat usia 2.5 bulan aku sudah harus kembali bekerja, rasanya tidak tega meninggalkan si kecil terlalu awal…apalagi asi-ku tidak bisa diperah dengan pompa sehingga sudah pasti program asi-ku akan gagal…akhirnya aku memutuskan minta tambahan cuti sebulan tanpa digaji, paling tidak anakku kan sudah merasakan asi ekslusif 3 bulan….eh tidak disangka-sangka…berawal dari keisengan aku menemukan bahwa ternyata asi-ku bisa diperah dengan menggunakan tangan…seperti memerah sapi lah…lega deh rasanya…apalagi aku baru baca artikel yang menyatakan bahwa pemberian susu formula dibawah usia 4 bulan akan menyebabkan kekebalan yang dimiliki bayi tidak maksimal….

Akhirnya aku bisa pergi kerja dan tetap memberikan asi yang terbaik untuk buah hatiku….aku tidak tau apakah asi perahan yang kutinggalkan cukup atau tidak karena memang anakku itu rakus sekali, rasa-rasanya yang keluar tidak deras-deras amat….suamiku sudah tidak sabar dan menganjurkan memberi tambahan formula karena tak jarang pada saat aku pulang persediaan susunya sudah habis dan dia menyedot botol yang kosong….hik sedih campur lucu deh lihatnya…tapi aku tetap berkeras dan berjanji kalau pada saat pemeriksaan bulanan di dokter nanti berat badannya turun atau dokter menyatakan asupan gizinya kurang maka aku akan menyerah dan mulai memberi tambahan susu formula…

Tapi ternyata berat badannya naik 1250 gram dan di bulan berikutnya naik 1000 gram. Apalagi sejak aku makan kacang hijau sehari 2 kali rasanya asi yang keluar makin deras, belum lagi ditambah suplemen dari dokter dan pil lancar asi, paling tidak aku bisa meninggalkan 500 cc setiap harinya, tak lupa aku selalu konsultasi ke klinik laktasi yang makin menguatkan hatiku di saat-saat kritis.

Saat ini usianya sudah menginjak 4 bulan dan beratnya sudah 7 kg, aku kembali bertekad meneruskan asi ekslusif sampai 6 bulan karena memang merupakan kewajiban kita untuk memberikan yang terbaik untuk anak kita. ASI adalah payung untuk masa depan si kecil.

Leave a Reply