Hamil Tanpa Janin?

Dikirim oleh Evariny A. untuk Seputar Kehamilan

Kenali Lebih Jelas “Hamil Anggur”

Ny. Amelia (27 tahun) ketika dinyatakan positif hamil tentu saja gembira hatinya. Maklum ini merupakan kehamilan pertama baginya. Kabar gembira itu pun disampaikan pada sang suami, Tanto.

Waktu terus berlalu, ketika usia kandungan 4 bulan, Amel bersama sang suami, bermaksud memeriksakannya ke dokter. Katanya, mereka ingin tahu bayinya laki-laki atau perempuan. Di samping itu, ia juga ingin mengetahui apakah kehamilannya berjalan normal. Sebab ia merasakan selalu mual yang sangat berat.

Bahkan yang membuat dirinya bingung, kok bisa-bisanya ia sampai muntah lebih dari 5 kali dalam sehari. Ternyata apa yang dikhawatirkan pun terjadi. Dari hasil pemeriksaan USG, kehamilan yang telah memasuki usia 5 bulan, kok tidak terdengar detak jantung sang janin. Sedihlah mereka.

Pemeriksaan Positif Hamil

Apa yang thalami Amelia merupakan kehamilan abnormal yang dalam istilah kedokteran dikenal dengan hamil mola hydratidosa, atau dalam masyarakat awam lebih dikenal dengan hamil anggur. Sebutan itu diberikan karena di dalam uterus atau rahim si ibu terdapat gelembung-gelembung villus yang menggerombol mirip serangkai buah anggur. Hamil anggur memiliki gejala yang salah satunya pembesaran uterus yang lebih cepat dari kehamilan normal. Karena itu tidak jarang seorang yang mengalami hamil anggur perutnya lebih besar dari usia kehamilan yang sebenarnya.

Perlu diketahui pula bahwa gejala pembesaran uterus ini dialami oleh 50% penderita. Selain itu, hamil anggur, kadang di usia kehamilan 6-8 minggu terjadi pendarahan yang disertai keluarnya gelembung villus berisi cairan. Nah, dari situlah antara lain diketahui jika si ibu mengalami hamil anggur. Pada kasus hamil anggur, hasil pemeriksaan air seni si ibu tetap positif. Mengapa bisa begitu? Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kandungan dan kebidanan, hormon kehamilan tetap dihasilkan dalam jumlah tinggi.

Karena itu, tidak mengherankan pula bila si penderita pun sering mengalami mual dan muntah berlebihan atau dikenal dengan istilah hyperemesis. Hal itu terjadi karena jaringan trofoblast pada villus berproliferasi atau mengalami proses pembelahan ringan dan kadang-kadang keras. Karena itu mengeluarkan hormon yang dikenal human chorionic gonadotrophin (hCG) dalam jumlah yang kadang lebih besar dari kehamilan biasa. Nah, hormon hCG inilah yang menimbulkan rasa mual berlebihan pada ibu hamil.

Pada tahap berikutnya, bila kehamilan si ibu diperiksa dengan USG, tidak akan ditemukan detak jantung janin SePerti yang dialami Amelia itu. Hal ini bisa terjadi karena pada hamil anggur, telur yang dibuahi tidak berkembang menjadi janin. Jaringan trofoblast yang semestinya menjadi ari-ari, tidak berkembang. Jadi, melalui USG-lah cara satu-satunya yang paling tepat untuk mengetahui ibu hamil normal atau anggur.

Hingga saat ini penyebab hamil anggur masih belum diketahui secara pasti. Berdasarkan penelitian, kasus hamil anggur terbanyak pada wanita Asia. Sebagai gambaran untuk di Indonesia pada tahun 1984, kasus hamil anggur terjadi per 85 kehamilan. Angka kejadian ini terus meningkat pada masyarakat yang berpenghasilan rendah dengan nutrisi yang buruk.

Pada wanita yang hamil di atas usia 40 tahun atau di bawah 20 tahun lebih mudah terjadi kehamilan. Namun begitu kehamilan di atas usia 40 tahun risikonya 5,2 kali lebih besar dibandingkan yang hamil di bawah usia 20 tahun. Adanya riwayat keguguran juga kehamilan si ibu diperiksa dengan USG, tidak akan ditemukan detak jantung janin seperti yang dialami Amelia itu. Hal ini bisa terjadi karena pada hamil anggur, telur yang dibuahi tidak berkembang menjadi janin. Jaringan trofoblast yang semestinya menjadi ari-ari, tidak berkembang. Jadi, melalui USG-lah cara satu-satunya yang paling tepat untuk mengetahui ibu hamil normal atau anggur.

Hingga saat ini penyebab hamil anggur masih belum diketahui secara pasti. Berdasarkan penelitian, kasus hamil anggur terbanyak pada wanita Asia. Sebagai gambaran untuk di Indonesia pada tahun 1984, kasus hamil anggur terjadi per 85 kehamilan. Angka kejadian ini terns meningkat pada masyarakat yang berpenghasilan rendah dengan nutrisi yang buruk.

Pada wanita yang hamil di atas usia 40 tahun atau di bawah 20 tahun lebih mudah terjadi kehamilan. Namun begitu kehamilan di atas usia 40 tahun risikonya 5,2 kali lebih besar dibandingkan yang hamil di bawah usia 20 tahun. Adanya riwayat keguguran juga akan meningkatkan risiko terjadinya hamil anggur. Sebaliknya, riwayat hamil normal lebih dari satu kali akan mengurangi risiko.

Bersihkan dengan Kuret

Bagi wanita yang mengalami hamil anggur tidak perlu terlalu risau. Sebab, masalah itu bisa diatasi oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Untuk wanita yang masih muda dan masih ingin memiliki momongan, hamil anggur dapat ditangani dengan kuretase dan dilatasi, yakni kerokan dengan isapan. Sementara itu jika hamil anggur terjadi pada wanita yang telah memiliki anak dengan jumlah cukup ataupun berusia lanjut, bisa juga dengan kuretase dan dilatasi atau bisa juga dengan melakukan pengangkatan rahim.

Setelah dokter melakukan pembersihan jaringan-jaringan abnormal, biasanya gejala muntah dan mual akan segera berkurang. Kelenjar thyroid pun akan menurunkan produksi hormonnya. Bila pada ibu hamil anggur terdapat kista, kista itu pun akan segera hilang.

Setelah hormon kehamilannya negatif selama 1 tahun, penderita hamil anggur boleh hamil lagi. Memang bagi wanita yang mengalami hamil anggur disarankan tidak hamil dalam jangka waktu tersebut. Karena, saat si ibu hamil kembali, hormon kehamilan akan meningkat lagi. Jadi, itu diterapkan untuk. dapat membedakan apakah hormon itu karena kehamilan, atau akibat sel-sel trofloblast sisa hamil anggur.

Pada umumnya, ibu yang pemah mengalami hamil anggur dapat hamil normal setelah waktu setahun. Namun demikian tidak berarti hamil anggur tidak dapat berulang lagi. Oleh karena itu saran dari beberapa ahli, sebaiknya sebelum berkeinginan memiliki momongan, suami-istri melakukan pemeriksaan dulu terhadap kesehatan si ibu.

Agar Mola Tak Jadi Kanker

Hamil anggur atau mola hiydratildosa sebetulnya jinak. Akan tetapi bila si ibu tetap menghasilkan hormon kehamilan setelah rahim dibersihkan, sebaiknya berhati-hatilah, karena masalah itu dapat menimbulkan kanker yang dikenal dengan kariokarsinoma.

Jadi, tidak ada salahnya ibu yang pernah hamil anggur melakukan pemeriksaan lanjut, seperti:

1. Pemenksaan air kemih dan pemeriksaan panggul.

2. Pemeriksaan darah. Pemeriksaan itu untuk mengetahui kadar hCG dalam darah yang diPeriksa setiap minggu sampai kadar menjadi negatif selama 3 minggu berturutturut.

3. Pemeriksaan rontgen paru-paru tiap bulan untuk melihat apakah telah terjadi penyebaran sel-sel kanker.

4. Terapi kanker (kemoterapi) dilakukan jika kadar hCG tidak turun dalam 3 minggu berturut-turut atau malah menunjukkan kenaikan. Cara ini dilakukan pada ibu yang ingin rahimnya dipertahankan. Jika tidak ingin, maka akan dilakukan pengangkatan rahim.(ssn)

Sumber : Samarinda Pos

Leave a Reply