Pengalaman melahirkan Aleta, ELO dan Room In

Dikirim oleh Sylvia Radjawane untuk Kisah Kelahiran & Menyusui

Sekadar sharing pengalaman melahirkan Aleta Dec’07 kemarin, ya…

Bisa dibilang, pengalaman bersalin kali ini sangat banyak ‘berkah’nya 🙂 Mulai dari keinginan ngalamin ‘mules’ dulu sebelum berangkat ke RS yang terpenuhi (karena persalinan2 sebelumnya selalu di-inisiasi dengan induksi) , waktu bersalin yang lebih cepat dan dilalui dengan lebih nyaman (thanks to bukunya jeng Evariny – tentang melahirkan tanpa rasa sakit :)), waktu persalinan yang lebih cepat 2 minggu dari mulainya tanggal cuti melahirkansampai ke fasilitas ‘ekstra’ setelah bersalin – bisa ngalamin ELO (EarlyLatch-On), Room-In (sekamar dengan baby) di RS juga kondisi yang lebih siap untuk menyusui eksklusif.

Baru kali itu saya ngalamin ‘mules’, muncul flek dan keluar cairan sebelum berangkat ke RS.  Bahkan karena baru pertama kalinya, saya sempat kontak ruang bersalin RS untuk konsultasi sebentar 🙂  Saya masih belum yakin itu cairan ketuban, karena waktu saya telepon RS dalam posisi berdiri, cairan tidak keluar lagi. Sampai di RS, sudah bukaan 3-4, dan ternyata memang cairan ketuban saya masih utuh.  Setelah itu mulai prosedur standar: CTG (cardiotocography) diselingi pemeriksaan dalam. Mulai fase ini, saya mulai praktekkan apa yang sudah dishared jeng Evariny dibukunya…. tetap setting pola pikir kita untuk rileks. 🙂

Sebagai mom yang sudah berkali2 di-induksi saat bersalin, saya harus bilang persalinan normal yang alami ini memang jauh lebih nyaman. Benar2 tidak merasakan kontraksi yang ‘bertubi-tubi’ seperti saat di-induksi. Saat bukaan 5-6 masih bisa menghayati koleksi lagu di iPod saya, bukaan 7 juga masih bisa ‘gossip’ dengan para bidan tentang para pemeran TV series ‘CSI’ yang sedang diputar di dalam ruang bersalin 🙂 — beruntung, 2 dari 3 bidan yang bergantian memonitor saya adalah bidan2 yang juga mendampingi saya melahirkan Jovan & Rena dulu.

Setelah itu kontraksi memang semakin intens, dan saya mulai ‘sibuk’ cari hubby untuk dipeluk setiap kali ‘kontraksi’ datang 🙂 Setelah pakai cara untuk tetap ‘rileks’ mulai agak ‘tidak berhasil’ dan mulai ‘panik’, akhirnya saya set pola pikir saya dengan membayangkan kalau setiap kontraksi itu datang, kepala baby saya sedang berusaha untuk ke luar, artinya bukaan sudah mulai meningkat, dan sang baby sebentar lagi akan bertemu dengan saya.

So, memang rasanya ‘sakit’, tapi nggak bisa dihindari dan memang hanya bisa ‘disambut’ sambil harap2 sebentar lagi akan ‘diganti’ dengan kehadiran bayi mungil. Itu juga yang buat saya tetap ‘semangat’ mempraktekkan teknik napas yang baik (yang kata buku2: itu untuk membantu baby kita, karena kontraksi membuat baby kekurangan oksigen).

Finally, setelah bukaan lengkap dan 2x ‘gagal’ untuk ‘push’, di kesempatan ke-3, akhirnya berjumpa deh dengan Aleta 🙂

Mungkin ada beberapa moms di sini yang juga sudah ngalamain ELO.  Saya bersyukur mengalaminya karena memang sangat amazing :). Bayi yang baru beberapa menit lalu ‘brojol’, hanya dibersihkan sebentar dan kemudian diletakkan di dada ibunya dan dibiarkan dalam waktu cukup lama untuk ‘berinteraksi’ sekaligus diberi fasilitas untuk ‘mempertajam’ instingnya menyusui.

Bersyukur juga untuk instansi RS tempat saya bersalin, yang kelihatannya sudah menjadikan aktivitas ini sebagai SOP di ruang persalinan. Mulai dari fase bukaan 5-6, saat saya diminta untuk mengganti pakaian dengan pakaian putih RS, saat itu sudah diinfokan bahwa melepaskan bra juga untuk keperluan ELO nanti. Saat bukaan lengkap (bukaan 10), tepatnya saat jeda antar waktu kontraksi, bidan yang mendampingi juga sudah mempersiapkan aktivitas ELO, check nipple dan menginfokan kalau colustrum sudah keluar. (wah, saat itu saya happy banget dengarnya, karena memang persiapan massage payudara bisa dibilang tidak terlalu rutin karena saya cukup sibuk menjelang persalinan).

Saya nggak terlalu ingat kejadian persisnya, tapi setelah DSOG menunjukkan placenta yang sudah dikeluarkan dari rahim saya, salah satu bidan membawa Aleta, menunjukkannya pada saya dan sempat saya ciumi, lalu diletakkan di atas dada saya sambil diselimuti kain penghangat, dan membiarkan beberapa lama ‘skin to skin’ contact dengan kulit ibunya. Setelah semua urusan persalinan selesai,  dapat ucapan selamat dari tim medis yang menangani persalinan saya, kami bertiga (dengan hubby) dibiarkan sebentar di dalam kamar bersalin.Yang terpikir saat itu, saya hanya coba untuk menghangatkan dia. Tapi mungkin ‘lain’ lagi pikiran Aleta. Dia hanya tengkurap sebentar di atas saya, lalu mulai matanya ‘curi-curi pandang’ ke ibunya :), coba goyang2 kan kepala … dan kembali mencoba  ‘mendongak’ memandang saya.

Lalu ada 1 bidan yang kembali mendampingi dan mulai memandu Aleta untuk mulai kegiatan ELO nya. Masa ini yang saya nggak bisa lupakan :). Saya sempat oles colustrum ke bibir Aleta, …’slow but sure’ dia mulai mendekati daerah puting ibunya, kepalanya kadang digoyang2 (seperti orang menggeleng2 kan kepala) dan kakinya seperti ‘mendaki’ perut ibunya untuk mencapai area aerola. Jelas terlihat ‘insting’ baby yang baru lahir untuk segera memenuhi kebutuhannya terhadap ASI. Sambil tetap dipandu dan diawasi bidan, Aleta mulai belajar menyusui ….

saya nggak nyangka kalau sebentar kemudian saya sudah dengar bunyi ‘sucking’  baby saya saat ia menyusui dalam posisi tengkurap di atas dada saya… benar2 amazing! 🙂 sampai nggak kerasa hampir 1.5 jam semua aktivitas ELO itu berlangsung. Secara nggak lansung, pengalaman itu juga yang buat saya dan Aleta lebih siap untuk melakukan kegiatan laktasi selanjutnya setelah keluar dari ruang bersalin.

Saat senam hamil dulu, instrukturnya sempat menginfokan: kadang di hari ke-2 setelah persalinan adalah fase ‘agak berat’ untuk para ibu tetap ‘semangat’ dalam memberikan ASI eksklusif. Setelah melewati ‘hingar-bingar’ proses persalinan, di hari ke-2, efek kelelahan dan rasa sakit pasca bersalin mulai lebih eksis. Belum lagi kunjungan dari keluarga dan relasi, kesibukan menceritakan pengalaman bersalin yang berulang2, dan akhirnya harus ends-up dengan hanya berdua dengan baby di kamar (setelah semua orang pulang), kadang ‘menggoda’ para ibu untuk ‘sebentar’ menitipkan baby ke ruang baby dan istirahat sejenak.  Kalau nggak termotivasi dengan kuat, kadang waktu istirahat ini jadi ‘diperpanjang’.

Ditambah kondisi payudara yang mulai membengkak karena belum dikeluarkan ASInya, rahim yang lagi berkontraksi untuk mengecil yang menambah ketidaknyamanan, membuat para ibu mulai berpikir untuk terus menunda memberikan ASI hingga kadang harus ‘menyerah’ dan minta staff RS untuk memberikan substitusi ASI alias susu formula. Kondisi seperti ini yang saya coba antisipasi. So saya terus motivasi diri untuk selalu memberikan ASI kepada Aleta. Hanya saat saya ke rest-room (dan kebetulan tidak ada orang yang gantian menjaga Aleta), waktu mandi baby di hari 1-2 nya, juga saat ada penjenguk yang sedang flu, baru saya titipkan sebentar ke ruang baby. Selebihnya, dia selalu ada di kamar saya.

Untuk saya pribadi, room-in dengan Aleta jauh lebih nyaman bukan pada saat kami ada di bed masing2 dalam 1 ruangan, tapi justru saat dia 1 bed dengan saya. Memang akhirnya, dia lebih sering ‘dikelonin’ dengan saya. Dan ini justru yang membuat dia lebih enak menyusui dan saya lebih punya waktu istirahat malam yang tidak begitu  terganggu :).

Untuk ASI eksklusif, saya pikir ini hanya ‘impact’ dari pengalaman dan persiapan sebelumnya. Setelah melewati pengalaman ELO juga rooming-in, terus ditambah motivasi yang terus dijaga untuk memberikan ASI eksklusif, aktivitas laktasi dengan Aleta sudah berlanjut dengan sendirinya hingga kami berdua tiba di rumah. Di tambah  tidak lupa dengan ilmu tentang ‘posisi menyusui yang benar’ supaya terhindar dari puting lecet/luka, ‘selalu menyusui on baby’s demand’ supaya supply ASI tetap tersedia, ‘kondisi psikis yang diupayakan tidak stress dan tetap happy’, ASI eksklusif tetap bisa dilakukan dengan sukses 🙂

O ya, berhubunga Aleta lahir saat ‘musim hujan’, bisa dibilang sampai usianya 2 minggu baru sempat dijemur pagi 2x. So, satu2 nya cara yang terpikir oleh saya untuk menghindarkan dia dari jaundice (kuning) adalah dengan rajin2 menyusui.  Issue ini perlu dicermati untuk moms BA lain yang mau bersalin dalam waktu dekat ini (yang masih kategori ‘musim hujan’). Rajin2 kasih ASI untuk baby-nya, supaya nggak perlu lewatin test2 darah dan ‘nginap’ di RS karena jaundice.

Sylvia – mum to Jovan, Rena & Aleta

Leave a Reply