Kelahiran Laras…my little angel

Dikirim oleh Rini Wahyu Purnomo untuk Kelahiran Normal

Proses kelahiran tadinya merupakan suatu proses yang agak menakutkan bagi saya terutama jika mendengar cerita pengalaman dari teman-teman yang terlebih dahulu melahirkan baik secara normal maupun operasi sesar. Bayangan sakitnya saat kontraksi apalagi jika karena diinduksi atau paniknya jika ketuban duluan selalu timbul pada bulan-bulan terakhir kehamilan saya. Namun, saya berusaha untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan meyakinkan diri saya sendiri bahwa itu semua merupakan proses yang memang harus dijalani oleh setiap wanita dan calon ibu.

Proses kehamilan saya bisa dibilang lancar dan tanpa kendala berarti, mual dan muntah di bulan-bulan pertama juga saya alami. Hanya saja di minggu ke 32 saya di vonis menderita cervical incompetence dan dikhawatirkan bayi saya akan lahir prematur karena posisinya yang telah di bawah sekali. Saya dianjurkan dokter untuk menjalani operasi circlage, yaitu operasi pengikatan leher rahim. Saya panik sekali dengan vonis tersebut, masalah ketakutan akan operasi dan soal biaya operasi, maka saya dan suami memutuskan untuk mencari opini dari dokter lain.

Akhirnya setelah menemui dr. Achmad Mediana SPOG di RS Gandaria, saya hanya dianjurkan untuk bedrest selama 2 minggu dan terus memantau kandungan saja. Operasi tidak perlu dilakukan karena usia kehamilan saya sudah tua sedangkan operasi tersebut dilakukan pada usia kandungan 20 minggu. Setelah mendapatkan opini tersebut saya menjalani kehamilan dengan lebih santai tapi juga hati-hati. Tidak lupa saya melatih terus berlatih relaksasi dengan membaca buku “Melahirkan tanpa rasa sakit” karangan mbak Evariny dan mendengarkan rekaman ibu Lany, serta mengikuti senam hamil agar badan tetap fit menjelang hari H.

Pada minggu ke 39 tepatnya tanggal 15 Februari 2008 subuh, saya merasakan mules seperti kalau haid. Awalnya saya kira itu mules biasa, tapi sakitnya hilang timbul dan teratur tiap 30 – 45 menit sekali. Saya bangunkan suami, dan suami mengatakan agar saya bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Suami juga menghubungi dokter Achmad melaporkan tentang tanda-tanda yang saya alami. Beliau menganjurkan untuk segera ke rumah sakit agar diperiksa.

Sebenarnya saya telah keluar flek dan lendir coklat sejak tanggal 9 Februari, namun beberapa kali coba diperiksa oleh bidan maupun dokter, belum ada pembukaan sebagai tanda akan melahirkan. Sehingga dokter mengatakan, dokter akan menunggu sampai tanggal 28 Februari sebagai batas akhir kehamilan saya.

Sampai di rumah sakit, saya diperiksa oleh perawat menggunakan alat CTG. Saya sempat takut, kalau ternyata belum ada pembukaan dan saya disuruh pulang. Menurut hasil CTG, mules saya belum bagus dan teratur, saya pun 2 kali diperiksa hingga akhirnya dokter melakukan pemeriksaan dalam, dan mengatakan kalau saya sudah pembukaan 2-3. Alhamdulillah, saya pun langsung disuruh rawat dan dokter bilang 7-8 jam lagi saya akan diperiksa. Dokter pun menganjurkan saya untuk tetap melakukan mobilisasi seperti biasa dengan banyak jalan agar pembukaan berlangsung cepat.

Saya mengikuti saran dokter, saya makan siang bersama suami dan ibu saya di rumah makan sekitar rumah sakit. Kami berjalan kaki menuju rumah makan tersebut, makan seperti biasa walaupun sambil menahan rasa sakit kontraksi. Saya juga berjalan-jalan di lingkungan rumah sakit, ke kamar bayi sehingga menambah semangat agar cepat bertemu bayi saya sendiri. Tetap sholat, makan besar maupun cemilan manis serta minuman manis agar menambah tenaga, mandi seperti biasa dan tidak lupa buang air besar seperti saran perawat.

Mules yang tadinya 30 menit sekali menjadi 10 menit sekali di sore hari. Saya mulai tidak sabar menanti jam 7 malam, waktunya saya diperiksa dalam lagi. Akhirnya jam 7 malam, bidan memeriksa pembukaan saya, ternyata saya baru bukaan 4. Rasa panik kembali menyerang, saya merasa kok baru pembukaan 4. Berarti proses pembukaan saya memakan waktu yang lama, saya takut sekali jika saya harus diinduksi. Tapi saya mencoba tenang sambil menikmati rasa sakitnya, akhirnya 2 jam kemudian saya merasakan kontraksi sudah 2-3 kali dalam 10 menit. Saya mesti harus sabar karena saya baru akan diperiksa kembali jam 11 malam. Jam 21.30, saya sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya, walaupun saya mencoba mempraktekkan teknik pernapasan agar mengurangi rasa sakit kontraksi, tapi saya sudah mulai lemas juga. Saya meminta suami saya agar memanggil bidan dan memeriksa pembukaan saya.

Bidan mengatakan kalau saya sudah pembukaan 7, dan beberapa menit kemudian saya diantar ke ruang bersalin karena sebentar lagi saya akan melahirkan. Masuk di ruang bersalin, penderitaan makin berlanjut. Kontraksi sudah makin sering dan saya sudah tidak sanggup menghitung durasinya, sementara itu rasa ingin BAB juga sudah saya rasakan. Saya terus mencoba teknik pernapasan agar rasa ingin mengejan itu bisa saya tahan.

Dokter baru datang jam 10 malam, tapi beliau hanya bilang kalau saya akan segera melahirkan, karena pembukaan saya belum lengkap dokter pun belum memandu saya untuk melahirkan. Waktu saya rasakan berjalan sangat lama untuk menuju pembukaan lengkap, padahal saya sudah mulai kepayahan menahan sakit. Suami dan bidan terus memberi saya semangat dan tidak lupa selalu memberikan teh manis hangat agar tenaga saya tidak habis. Menjelang pembukaan 10 atau sekitar pembukaan 9, akhirnya saya diinfus / induksi, karena saya sudah mulai lemas dan mulas saya mulai hilang. Padahal mules itu dibutuhkan agar saya bisa mengejan. Setelah diinfus saya merasakan kontraksi makin hebat, dan pembukaan saya pun akhirnya lengkap. Jam 12 malam, dokter mulai bersiap-siap membantu proses kelahiran bayi saya.

Setiap rasa mulas datang, bidan dan dokter memandu saya untuk mengejan, suami saya pun terus memberi semangat. Saya sempat salah mengejan dan harus mengulang lagi, 2-3 kali saya mengejan sesuai dengan yang diajarkan di senam hamil, akhirnya bayi saya lahir dengan normal. Suara tangisan bayi saya, membuat saya menangis bahagia dan melupakan rasa sakit yang sebelumnya saya alami. Bersamaan dengan dokter melakukan penjahitan, bayi saya diletakkan di dada saya dan melakukan proses IMD. Rasa bahagia yang tidak bisa dilukiskan saya rasakan waktu pertama kali melihat Laras, nama yang sudah saya dan suami siapkan untuk anak kami. Suami pun langsung meng-adzan-kan dan meng-Qomat-kan Laras. Semoga Laras menjadi anak yang sholehah dan berguna buat keluarga, bangsa dan terutama agama.

Leave a Reply