Depresi Setelah Melahirkan, Atasi dengan Empati

Dikirim oleh Evariny A. untuk Sindrom Pasca Melahirkan

BANYAK perempuan yang berjuang mengatasi depresi pascamelahirkan atau baby blues selama ini hanya dengan bergantung pada obat-obatan. Namun, menurut studi terbaru yang dipublikasikan Jumat (16/1) di Paris, Perancis, konseling tidak hanya mengatasi depresi itu, tetapi juga bisa mencegahnya.

Konselor dapat mengurangi tingkat risiko depresi pascamelahirkan hingga mencapai 40 persen. Bila konseling itu mendapat dukungan dari sesama ibu, risiko berkembangnya jenis depresi ini menjadi gangguan yang membahayakan dapat berkurang hingga 50 persen.

Dalam penelitian yang dipimpin Jane Morrell dari Universitas Sheffield, Inggris bagian utara, membagi lebih dari 4.000 ibu baru dalam tiga kelompok. Pada dua kelompok pertama, setiap relawan menjalani sesi konseling psikologi setiap minggu selama lebih dari delapan minggu dengan menggunakan dua teknik.

Konseling dengan ”pendekatan perilaku kognitif” itu memfokuskan pola perilaku tidak suka menolong pada ibu. Konseling juga memakai ”pendekatan berpusat pada orang” dengan berempati dan memberi dukungan psikologis lain.

Sementara itu, kelompok ketiga yang merupakan kelompok pembanding terdiri dari para perempuan yang menerima pelayanan kesehatan sesuai standar. Hasilnya, jumlah wanita yang didiagnosis dengan depresi enam minggu setelah melahirkan menurun hingga 40 persen yang memiliki gejala serupa enam bulan kemudian bila mereka mendapat bentuk lain konseling.

Uji coba kedua sebagaimana dipublikasikan pada The British Medical Journal (BMJ) mengidentifikasi 701 ibu hamil di Ontario, Kanada, yang diestimasikan berisiko berkembangnya depresi pascamelahirkan.

Dengan mendapat dukungan dari sesama ibu, risiko terkena depresi pada 12 minggu setelah melahirkan berkurang.

”Uji coba ini menambah adanya bukti bahwa depresi pascamelahirkan dapat secara efektif diatasi bahkan memungkinkan untuk dicegah,” kata koordinator peneliti Cindy-Lee Dennis dari Universitas Toronto menjelaskan.

Sayangnya, para perempuan sering mengabaikan sindrom baby blues dan mengingkarinya. (AFP/EVY)

Sumber : Kompas Cetak

Leave a Reply