Selamat datang “My lovely Aisha”

Dikirim oleh elsa maretnowati untuk Kelahiran Normal
dikunjungi: 3536 kali, 1 hari ini

Semenjak dinyatakan keguguran pada Bulan Mei 2009, Alhamdulillah pada pertengahan Agustus di tahun yang sama dokter menyatakan bahwa saya hamil lagi 7 minggu. Benar-benar berita yang sangat menggembirakan untuk saya dan suami saya. Sejak itulah saya benar-benar berhati-hati dalam menjaga kehamilan saya supaya tidak terulang lagi hal yang sama. Alhamdulillah kehamilan saya bisa dibilang lancar. Selama hamil, saya hanya sedikit sekali merasakan mual dan lemas. Aktivitas juga tetap berjalan seperti biasanya. Kalau dalam bahasa Jawa, orang bilang saya itu “Ngebo”. Makan ya lahap, tidur ya enak, banyak jalan, dan tentunya ikut senam hamil.

Menginjak bulan keenam, dokter memprediksi bahwa anak yang ada dalam kandungan saya berjenis kelamin perempuan. Padahal sebagian besar teman-teman saya bilang kalau anak saya itu cowok soalnya saya gak suka pake make up selama hamil. Dalam hati saya, apapun itu yang penting sehat…

Hari demi hari terlewati, tidak terasa kehamilan saya sudah menginjak bulan ke sembilan. 3 minggu sebelum hari perkiraan dokter, saya sudah mulai cuti hamil (Perkiraan kelahiran menurut dokter adalah tanggal 7 april 2009). Mendekati hari H, saya mulai cemas karena rasa mulas yang dinanti-nanti tidak kunjung datang. Saya tidak merasakan mulas sama sekali, hanya kadang perut terasa sedikit kencang. Padahal waktu itu, ibu saya sudah datang ke rumah untuk menanti kelahiran cucu pertamanya (Saya tinggal beda kota dengan ortu saya). Tanggal 7 April terlewati tanpa kontraksi. Hampir setiap hari papa saya (yang saat itu masih berada di rumah) telpon menanyakan keadaan saya. Seluruh keluarga cemas dan bertanya-tanya “Kok belum lahir-lahir ya….” Anakku betah sekali di dalam….

Akhirnya batas maksimal kelahiran anak saya pun tiba. Tanggal 14 April saya pergi ke dokter untuk berkonsultasi. Dokter memberi saya pil untuk memacu agar terjadi kontraksi. Pukul 12 siang saya minum 1/4 bagian pil. Dengan hati berdebar-debar saya menunggu efek dari pil tersebut. Hari sudah semakin sore namun kontraksi masih belum datang juga. Pukul 6 sore saya minum lagi 1/4 bagian pil. Berselang 5 menit setelah saya minum pil tiba-tiba “Plok…” terdengar bunyi ketuban saya pecah. Segera suami saya memanggil taksi untuk pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan kami diliputi rasa berdebar-debar, namun demikian kami semua berusaha untuk tetap tenang dan memasrahkan segalanya di tangan Allah SWT. Pukul 7 malam, sesampainya di rumah sakit saya baru pembukaan 1 dan bidan saat itu meminta saya untuk bed rest karena ketuban saya sudah pecah. Alhamdulillah selama melewati proses pembukaan suami dan kedua orang tua saya ada di samping saya. Saya berusaha untuk tetap tenang dan mengatur pernafasan saya. Beruntung sekali suami saya adalah orang yang sangat setia (Thank you ayah…..) .Suami saya selalu memegang tangan saya sambil menguatkan batin saya dengan berkata “Ayo…berusahalah untuk kuat sayang. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita. Berusahalah untuk kuat demi anak kita. …” Ibu dan ayah saya yang saat itu menemani juga menjadi pendorong buat saya. Semakin lama kontraksi semakin kuat. Rasa sakitnya benar-benar “nikmat” deh…. Pukul setengah 12 malam saya sudah hampir tidak tahan dengan rasa sakitnya… Saya meminta suami saya untuk memanggilkan bidan. Setelah di cek oleh bidan ternyata saya sudah pembukaan 8…. Semangat saya pun semakin bertambah. Tentu saja juga diiringi oleh rasa panik karena dokter belum muncul juga. Pukul 12 malam tepat akhirnya dokter datang ke ruang bersalin. Rasanya campur aduk ketika melihat dokter, bidan, dan suster bersiap-siap menangani proses kelahiran bayi saya. Akhirnya tiba juga saat itu, dokter memimpin saya untuk mengejan. 10 menit kemudian terdengar tangisan bayi dan rasa mulas itu pun hilang….. Alhamdulillah bayi yang selama 9 bulan berada di dalam rahim saya terlahir ke dunia dengan selamat dan sempurna, berat 3.35 kilo dan panjang 49 cm. Seorang bayi perempuan yang cantik, wajahnya merupakan perpaduan dari suami saya dan ayah saya. Bayi perempuan itu kami beri nama “Aisha Selma Hasna Faiha”. (lahir 15 Ap

Alhamdulillah proses kehamilan dan melahirkan yang saya alami tergolong lancar… Ikut senam hamil dan tetap aktif saat hamil benar-benar berguna. Selain itu juga, saya sangat bersyukur sekali kepada Allah SWT karena dikarunai orang-orang yang sangat menyayangi saya, terutama suami dan kedua orang tua saya. Thank u all….

Share

Leave a Reply