Ini Ghaisan Bunda…

Dikirim oleh Ratih Parapat untuk Kelahiran Normal Pengalaman Klien
dikunjungi: 15088 kali, 1 hari ini

Alhamdulillah, bulan September 2008, 2 bulan umur pernikahan kami dokter menyatakan saya positif hamil 3 Minggu. Senang sekali rasanya, saya dan suami tidak menyangka secepat itu Allah mempercayai kami untuk menjadi orang tua. Diawal kehamilan saya mengalami morning sickness yang cukup parah, tapi Alhamdulillah, suami, teman2, dan atasan saya sangat pengertian, hingga semuanya tidak menjadi masalah. Memasuki Trimester kedua, morning sickness-nya sudah hilang dan nafsu makan saya meningkat drastis hingga berat badan saya pun naik drastis. Saya menjalani trimester kedua dan ketiga dengan lancar, diumur kandungan 4 bulan saya mulai mempraktekkan latihan relaksasi yang saya dapatkan dari bukunya mbak Evariny.

Saya merasa dapat mengontrol emosi dengan baik setelah melakukan relaksasi, saya merasa bahagia dan semakin bahagia seiring dengan membesarnya perut saya, saya tidak takut dengan persalinan saya, dan saya pun tetap menjalani aktivitas saya dikantor seperti biasa, hingga saat atasan saya meminta untuk memajukan jadwal cuti yang seharusnya 1.5 bulan menjadi 2 minggu sebelum melahirkan saya terima dengan senang hati, karena saya merasa masih mampu bekerja dan dengan begitu saya akan lebih lama bersama bayi saya nanti, pikir saya saat itu.

Dokter memprediksi bayi saya lahir pada 25 Mei 2009, dua minggu sebelum prediksi saya sudah mempersiapkan segala keperluan untuk bersalin. Saya sempat takut suami tidak disamping saya saat saya akan melahirkan karena kerjanya yang diatur shift, suami selalu meyakinkan kalau dia akan segera pulang kapanpun saya menelponnya, tapi tetap saja saya takut merasakan sakit tanpa dia. Setiap malam saya ngomong sama bayi saya ” Nak, bunda pingin ada ayah disamping bunda saat kamu lahir.. Kamu lahir pas ayah libur kerja aja ya sayang, biar kita ditemanin ayah..” dan terasa bayi saya nendang2 waktu saya ngomong seperti itu.

Tanggal 16 Mei 2009 sekitar jam 03.15 Wib dini hari saya ingin buang air kecil dikamar mandi, saat bangkit terasa ada air yang membasahi celana, semula saya kira saya ngompol tapi saya tetap ingin buang air kecil. Selesai buang air kecil, saya sempat bingung, itu air apa ya.. tapi saya tetap tenang, toh belum ada kontraksi kok, pikir saya saat itu dan saya pun melanjutkan tidur, hingga sekitar jam 17.00 Wib, saat buang air kecil saya melihat ada bercak darah di cd saya, tapi saya belum merasakan kontraksi, saya menelpon teman yang sudah berumah tangga, saya sengaja tidak menelpon ibu saya karena tempat tinggal kami berjauhan, saya berniat akan menelponnya setelah bayi saya lahir, saya tidak ingin merepotkannya (maaf ya ma’…). Saat itu teman saya menyarankan agar segera kerumah sakit, suami yang kebetulan sedang libur kerja juga menyarankan begitu.

Jam 19.00 Wib kami tiba dirumah sakit, saat diperiksa ternyata belum terjadi pembukaan, tapi saya disarankan rawat inap, dokter bilang kalau sudah keluar air dikhawatirkan ketuban bocor. Saya pun dipindahkan kekamar pasien, Jam 02.00 Wib saya mulai merasakan kontraksi, namun saya tetap santai, tidak begitu sakit kok, saya tarik napas pelan2 setiap kontraksi datang dan menghembuskannya perlahan. Jam 06.15 Wib kontraksi mulai sering, saya minta suami memanggil perawat dan sayapun dipindah keruang bersalin. Tiga jam berlalu, saya heran kok bayi saya belum lahir juga ya, saya juga belum merasakan sakit yang teramat sangat ( seperti yang sering saya dengar dari orang ), ketika diperiksa sudah bukaan 6 dan tidak berapa lama ketuban saya pecah, dokter menyarankan agar saya diinduksi karena kalau terlalu lama ketubannya bisa kering. Saya yang memang tidak tahu apa2 mengiyakan saja.

Setelah diinduksi saya merasakan mules yang benar2 menyiksa, sakit sekali.., saya menangis dan terus menangis setiap kontraksi datang, suami tidak tega melihat saya seperti itu dan minta saya dibius saja, akhirnya dokter anasthesie meng-epidural saya, perlahan rasa sakitnya hilang dan saya tertidur, lelah sekali rasanya.. tidak sampai satu jam saya terbangun karena saya kembali merasakan sakit, saya minta dokter menambah bius saya, namun dokter bilang kalau tetap dibius saya akan tidak merasakan kontraksi hingga sulit untuk mengedan. Saya benar2 pasrah saat itu, sampai saat dokter bilang kalau pembukaan saya sudah lengkap dan posisi saya di’siap’kan untuk mengeluarkan bayi saya, saya tarik napas dan mengumpulkan kembali puing2 semangat yang hampir hilang, inilah waktu yang saya tunggu.. hanya tiga kali mengedan, Alhamdulillah tepat pukul 12.45 Wib saya melahirkan bayi laki2 dengan berat 3,5 Kg dan panjang 49 cm, saya tidak merasakan apa2 saat bayi saya keluar, saya baru sadar kalau dia sudah lahir ketika saya dengar suara tangisan bayi yang nyaring.

Subhanallah, saya menangis mendengar tangisnya yang sangat indah, dia baru berhenti menangis saat saya mendekapnya, saya terus memandanginya, bayi laki2 yang montok, ganteng dan lucu itu adalah anak saya, Alhamdulillah.. terima kasih Allah.. Terima kasih sayang, kamu mendengarkan permintaan bunda, kamu lahir pada tanggal 17 Mei 2009 tepat pada saat ayah libur kerja, suatu keajaiban. Ghaisan Dzaky Al Fattah nama yang kami berikan untuk buah hati kami itu, nama indah yang berarti “Anak Lelaki Yang Ganteng, Baik, Pintar dan Suci Pembuka Pintu Rahmat Keluarga Kami”.

Thanks to Allah, My Husband, dr. Letta Sari Lintang, RSU. Sarah Medan.

Share

One Response to “Ini Ghaisan Bunda…”

  1. chacha Says:

    wah.. jadi terharu nge baca postingan ini…
    jadi ikut merasakan tangisan bahagia ibu saat melahirkan..
    selamat ya bu..

Leave a Reply