Meneropong Penyebab Bayi Berat Lahir Rendah

Dikirim oleh Evariny A. untuk Masalah Umum Kehamilan Seputar Melahirkan
dikunjungi: 11999 kali, 1 hari ini

Kapan seorang bayi dikatakan bayi berat lahir rendah (BBLR)?
Angka kejadian BBLR di Indonesia berkisar 9-30% bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain.
Hingga saat ini BBLR masih merupakan masalah di seluruh dunia karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa bayi baru lahir.

Angka kejadian BBLR di Indonesia berkisar 9-30% bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain. Hingga saat ini BBLR masih merupakan masalah di seluruh dunia karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa bayi baru lahir.

Sebanyak 25% bayi baru lahir dengan BBLR meninggal dan 50% meninggal saat bayi.
Mengapa? BBLR rentan terhadap kekurangan nutrisi, infeksi, dan keterlambatan perkembangan saraf.
Ada 2 tipe BBLR

1. Prematur yaitu bayi yang lahir lebih awal dari waktunya (kehamilan < 37 minggu)
2. Bayi kecil masa kehamilan (KMK) yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi memiliki berat badan kurang
Apa penyebab BBLR?

Sesuai dengan tipenya, BBLR tipe KMK disebabkan oleh :
 Ibu hamil yang kekurangan nutrisi
 Ibu memiliki hipertensi, preeklamsi, atau anemia
 Kehamilan kembar, kehamilan lewat waktu
 Malaria kronik, penyakit kronik
 Ibu hamil merokok

Sedangkan BBLR tipe prematur disebabkan oleh
 Berat badan ibu yang rendah, ibu hamil yang masih remaja, kehamilan kembar
 Pernah melahirkan bayi prematur sebelumnya,
 Cervical imcompetence (mulut rahim yang lemah hingga tak mampu menahan berat bayi dalam rahim)
 Perdarahan sebelum atau saat persalinan (antepartum hemorrhage)
 Ibu hamil yang sedang sakit
 Kebanyakan tidak diketahui penyebabnya.
Bilamana BBLR perlu dirawat di rumah sakit?

 berat badannya kurang dari 1800 gram
 usia kehamilan kurang dari 34 minggu
 sulit minum
 sakit
Permasalahan Bayi Prematur

Risiko yang dapat Terjadi
1. Jangka Pendek
Hipotermia. Hipotermia (suhu bayi <36,5°C) akan menyebabkan bayi kehilangan energi, pernapasannya terganggu, bayi menjadi sakit bahkan meninggal. Hipertermia (suhu bayi >37,5°C) dapat meningkatkan metabolisme, dan menyebabkan dehidrasi.
Hipoglikemia (Kadar Gula darah kurang dari normal)
Paru belum berkembang (bayi menjadi sesak napas)
Gangguan Pencernaan (mudah kembung karena fungsi usus belum cukup baik)
Mudah terkena infeksi (Sistem imunitas bayi belum matang)
Anemia (bayi kelihatan pucat oleh karena kadar hemoglobin darah rendah)
Mudah kuning
Perdarahan otak
Gangguan jantung

2. Jangka panjang
Gangguan pertumbuhan
Gangguan perkembangan
Gangguan penglihatan (retinopati akibat prematur)
Gangguan pendengaran
Penyakit paru kronik

Semakin muda usia kehamilan semakin besar risiko jangka pendek dan jangka panjang tersebut terjadi.
Perawatan bayi prematur di rumah
1. Utamakan pemberian ASI

ASI mempunyai keuntungan yaitu kadar protein tinggi, laktalbumin, zat kekebalan tubuh, lipase dan asam lemak esensial, laktosa, dan oligosakarida. ASI mempunyai faktor pertumbuhan usus, oligosakarida untuk memacu motilitas usus, dan perlindungan terhadap penyakit. Dari segi psikologik ASI meningkatkan ikatan antara ibu dan anak.
Formula standar untuk BBLR menyerupai ASI tetapi kekurangan antibodi dan faktor pertumbuhan. Formula prematur mempunyai kandungan kalori, protein, dan mineral yang lebih tinggi dibanding formula untuk bayi cukup bulan.
Bayi kecil juga rentan kekurangan nutrisi, fungsi organnya belum matang, kebutuhan nutrisinya besar, dan mudah sakit hingga pemberian nutrisi yang tepat penting untuk tumbuh kembang optimal.
2. Hindarkan suhu tubuh yang rendah (hipotermia) dengan cara:
Metode Kangguru. Metode yang tepat dalam merawat BBLR, yakni dengan kangaroo mother care atau metode kanguru. Metode kanguru adalah perawatan bayi baru lahir seperti bayi kanguru dalam kantung ibunya. Caranya: Bayi diletakkan dalam dekapan ibu dengan kulit menyentuh kulit, posisi bayi tegak, kepala miring ke kiri atau ke kanan. Keunggulan metode ini: bayi mendapatkan sumber panas alami (36-37o C) terus menerus langsung dari kulit ibu, mendapatkan kehangatan udara dalam kantung/baju ibu, serta ASI menjadi lancar. Dekapan Anda adalah energi bagi si kecil. Pada bayi berat badan lahir sangat rendah (kurang dari 1000 g) metode kanguru ditunda sampai usia 2 minggu, atau sampai keadaan si bayi stabil. Kriteria bayi kecil yang dapat menggunakan metode ini:
Bayi sehat
Berat lahir antara 1500-2500 g,
Suhu tubuh stabil (36,5 – 37,5o C),
Bayi dapat menetek,
Grafik berat badan cenderung naik.
Bayi dibungkus kain hangat dan kepalanya diberi topi.
Bayi kecil atau bayi sakit diletakkan di ruang hangat (tidak kurang dari 25o C).
Pastikan tangan selalu hangat saat memegang bayi.
Bila popok atau kain basah, harus selalu diganti.
3. Hindarkan kontak terhadap orang/lingkungan yang berisiko tinggi
4. Cuci tangan sebelum memegang bayi
5. Pakailah masker bila kondisi badan sakit sebelum memegang bayi
6. Lakukan pemijatan bayi secara rutin (tanyakan dokter tentang caranya)
7. Hubungi dokter atau bawa ke rumah sakit bila terdapat tanda kurang baik, misalnya: bayi malas minum, napas cepat, badan panas, bertambah kuning, dan bila ada kejang
Bagaimana Memonitor BBLR?

Si kecil yang Anda nantikan kini sudah pulang, namun mengingat ia tergolong BBLR, ada beberapa catatan penting menyangkut tumbuh kembang buah hati Anda.
Apa yang mesti Anda lakukan?

• Monitor pertumbuhan bayi (berat badan, panjang badan, lingkar kepala) secara berkala.

− Bayi biasanya akan kehilangan 1-2% berat badan setiap hari, selama 7-10 hari
− Kumulatif kehilangan berat badan berkisar 10%
− Berat akan kembali ke kondisi semula 10-14 hari, kecuali bila ada komplikasi.
− Penyebab turunnya berat badan

➢ kedinginan
➢ anemia
➢ kekurangan nutrisi

• Monitor perkembangan bayi.
• Pemeriksaan khusus: mata, USG kepala, telinga, dan darah bila ada anemia.

Referensi
Amir I, Rundjan L. Tata laksana Lingkungan dan Nutrisi Bayi kecil. Dalam: Tridjaja B, Trihono PP, Ifran EB. Pediatrics Update 2005. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan IDAI Jaya 2005.
Widness JA. Neo Rev 2000;1:261-267.
Neonat Pharmacopoeia. 2003, 79-80
Rauch GF. Arch. Dis Child Fetal Neonatal, 2002;86: F82-85

Share

Leave a Reply