Seimbangkan Otak Kanan dan Kiri

Dikirim oleh Evariny A. untuk Pola Asuh & Pendidikan
dikunjungi: 3289 kali, 1 hari ini

Tahukah Anda bahwa kedua belahan otak kita mengatur fungsi yang berbeda?

Profesor Robert Orsntein dari Universitas California menyelesaikan penelitian yang hasilnya mempertegas perbedaan aktivitas-aktivitas yang dikendalikan oleh kedua belahan otak tersebut.
Ornstein menemukan bahwa apabila belahan otak yang sering dipakai dirangsang dan disuruh bekerja bersama belahan otak yang jarang dipakai, maka akan tercipta kemampuan dan efektifitas otak yang jauh lebih besar (tinggi).

Masing-masing dari dua belahan otak bertanggung jawab atas cara berpikir yang berbeda-beda dan mengkhususkan diri pada kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun ada beberapa persilangan dan interaksi antara kedua sisi.

Proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Sisi ini sangat teratur. Walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme.

Cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.

Mengapa harus digunakan seimbang?
Kedua belahan otak sama pentingnya. Orang yang memanfaatkan kedua belahan otak ini juga cenderung seimbang dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Penemuan Ornstein ini memiliki makna khusus karena kebanyakan orangtua beranggapan bahwa anaknya pintar jika mereka pandai berhitung, membaca dan menulis. Anak yang pandai dalam urusan seni dianggap tidak intelek, bodoh, dan tidak ilmiah. Aggapan ini keliru.

Pendidikan di Indonesia seakan-akan lebih menitikberatkan pada fungsi otak kiri. Para siswa dituntut harus pintar dalam ilmu berhitung, membaca dan menulis. Mereka harus mengerjakan tugas-tugas berhitung dan menghapal, bahkan ada yang pada sore harinya harus mengikuti les tambahan pelajaran.

Untuk menyeimbangkan kecenderungan dominasi dari otak kiri, perlu dimasukkan musik, seni, estetika atau hal lain yang berhubungan dengan otak kanan dalam pengalaman belajar dan kehidupan anak. Semua itu menimbulkan emosi positif yang membuat otak lebih efektif. Emosi yang positif mendorong ke arah kekuatan otak, yang mengarah kepada keberhasilan.

Jika tidak melakukan upaya tertentu memasukkan beberapa aktivitas otak kanan dalam kehidupan anak Anda, dapat mengakibatkan anak stres dan mungkin mengakibatkan gangguan mental dan fisik.

Kreativitas maksimal
Kesimpulan yang dikemukakan oleh Ornstein adalah bahwa kita semua berpotensi untuk menjadi ilmuwan dan seniman hebat. Bila salah satu belahan otak kita kurang berfungsi, itu bukan karena tidak memiliki kemampuan melainkan hanya karena belahan otak itu tidak diberi peluang untuk berkembang.

Jadi, berikanlah buah hati Anda waktu dan kesempatan untuk melakukan hobi dan kegiatan yang disukainya sehingga mereka dapat memanfaatkan kedua belahan otak secara seimbang untuk menghasilkan kemampuan dan kreativitas yang lebih maksimal.

dr. I Made Indra Waspada

Share

Leave a Reply