Bolehkah Bayi Diberi Obat Bebas

Dikirim oleh Evariny A. untuk Bayi umur 0-2th Kesehatan anak

Kebanyakan orang tua tak berani memberikan obat bebas pada bayi. Padahal, boleh, kok, bayi diberi obat bebas. Namun dengan catatan, ia memang benar-benar membutuhkannya.

Bayi yang masih muda, tutur dr. Waldi Nurhamzah SpA, lazimnya amat jarang sakit bila ia lahir dalam keadaan sehat. “Daya tahan yang didapat dari ibunya semasa di kandungan, cukup buat mempertahankan dirinya dari gangguan kuman untuk beberapa bulan pertama, terlebih bila mendapatkan ASI.” Seperti diketahui, ASI merupakan obat bebas paling mujarab buat bayi muda. Jadi, si kecil masih belum perlu obat bebas. Sedangkan bayi yang agak besar, daya tahannya mulai menurun hingga mudah kena serang penyakit dari luar, terutama bila ia tak pernah diberikan ASI.

Umumnya, yang sering dikeluhkan orang tua dari bayi muda ialah pola BAB yang beragam; kadang tinjanya hijau, mencret, berlendir, berbusa, dan banyak gas. Padahal, kejadian demikian lumrah saja karena di usia tersebut tengah berlangsung penyesuaian sistem pencernaan. Hingga, orang tua tak perlu khawatir berlebihan, terlebih jika bayinya mendapat ASI. Bahkan, si kecil pun tak perlu diberi obat, apalagi sampai harus dibawa ke dokter segala.

Jadi, Bu-Pak, bila si kecil yang berusia 2 bulan mengalami mencret, misal, “jangan buru-buru dikasih obat, karena mungkin memang begitu pola buang air besarnya.” Bahkan, pada bayi yang sudah agak besar pun, jika mencret, langkah pertamanya bukan memberi obat melainkan cairan. “Sekalipun dokter telah memberi resep obat, orang tua harus berani bertanya mengapa obat perlu diberikan. Soalnya, kebanyakan mencret pada bayi tak perlu obat sama sekali,” jelas staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran UI ini. Lain hal bila mencretnya disertai muntah dan si kecil tampak lemas, harus segera dibawa ke dokter, bukan diberi obat bebas.

Contoh lain, jika kulit sekitar mulut bayi terdapat bercak-bercak seperti eksim, kita juga tak usah panik sampai harus mengoleskan macam-macam obat. “Kebanyakan kasus ini hanya karena reaksi kulit akibat susu yang keluar dari mulut. Jadi, bayi tak merasakan apa-apa.” Kita pun tak perlu buru-buru membawanya ke dokter karena umumnya, bercak itu akan hilang sendiri dalam waktu satu atau dua minggu.

Ini juga berlaku bila si kecil mengalami biang keringat. Tak perlu langsung membeli obat di apotik, lebih baik kita cari apa pencetus biang keringatnya; apa karena hawa di ruangan terlalu panas ataukah lantaran si kecil selalu mengenakan baju berlapis-lapis di udara yang panas? Nah, bila sudah tahu penyebabnya, si kecil bisa kita hindari dari faktor pencetusnya. Misal, karena udara panas; pakaikan baju dari bahan yang menyerap keringat dan tipis.

OBAT LUAR

Tentu kita boleh saja menggunakan obat bebas untuk mengatasi sakit si kecil, terutama bila si kecil usianya sudah 6 bulan ke atas. Biasanya obat bebas dibagi 2, yaitu obat luar dan obat telan.

“Umumnya, obat luar berupa cairan, salep atau ointment yang digunakan untuk mengatasi luka, bentol-bentol, gatal, atau lainnya,” terang Waldi. Adapun obat luar bebas yang paling sering dipakai adalah obat antiseptik untuk luka (merkurokrom, boorwater, rivanol, povidone iodine) dan minyak penghangat seperti minyak telon atau minyak tawon. Namun kita harus hati-hati dalam pemberiannya, lo. Perhatikan, apa ada reaksi yang timbul setelah pemberian berupa kemerahan, bentol-bentol, atau lainnya. Soalnya, bisa saja, kan, si kecil tak tahan terhadap obat luar itu.

Sebenarnya, lanjut Waldi, tak banyak obat luar yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Misal, obat oles yang mengandung steroid, “sangat ampuh memberantas gatal, eksim, dan beberapa reaksi alergi pada kulit. Namun karena sifat kerasnya, obat luar yang mengandung steroid hanya boleh diperoleh dengan resep saja.” Contoh obat ini antara lain Apolar, Benoson, Decoderm, Elocon, Lox, Kenacort, Locoid, Synalar.

“Celakanya, sekarang banyak sekali orang membeli obat oles yang seharusnya dengan resep. Padahal ini, kan, ada efek sampingnya.” Bila obat tersebut dioleskan pada kulit bayi, sebagian obat akan terserap oleh tubuh bayi hingga dapat meningkatkan konsentrasi obat yang tak wajar dalam tubuh bayi. Selain itu, dapat pula terlihat reaksi kulit terhadap obat semisal kulit yang diolesi salep tampak keputihan. “Walaupun bisa sembuh tapi hal ini sebenarnya tak boleh terjadi.” Bahkan, ada beberapa koreng tak boleh diolesi dengan obat yang mengandung steroid. Misal, luka akibat virus atau penyakit TBC. “Bila diberi salep yang mengandung steroid, boroknya bukan sembuh, malah menghebat.” Lagi pula, untuk tahu koreng itu akibat kuman atau bukan, harus pergi ke dokter, kan?

Obat luar lain yang juga perlu resep tapi kerap dipakai serampangan ialah antibiotik. Ini berbahaya. Bila si kecil sensitif pada salep itu, reaksi yang terjadi akan berbahaya. Misal, salep yang mengandung penisilin, tetrasiklin, gentamisin, neomisin. “Jika diberikan pada bayi atau anak yang tak tahan, akan timbul reaksi hebat.” Meski cuma dioleskan sedikit, reaksinya bisa fatal, lo.

OBAT TELAN

Untuk obat telan, yang paling pas buat bayi tentulah berupa sirup. Selain lebih mudah menakarnya, cara menyimpannya juga tak sulit; biasanya tak perlu disimpan di lemari es, cukup dalam suhu kamar. Jangan lupa, tutup rapat agar isinya tak dirubung semut. Bila kita ke dokter, mungkin masih ada beberapa dokter yang memberikan obat dalam bentuk puyer untuk bayi. Namun jenis obat bebas telan yang dapat diberikan pada bayi amat terbatas. Umumnya obat pereda panas, obat batuk dan pilek, serta larutan rehidrasi.

Penting diketahui, obat bebas ditandai lingkaran hijau pada kemasannya. Dalam banyak buku petunjuk penggunaan obat, jenis ini diklasifikasikan sebagai jenis B, hampir terdapat pada semua obat pereda panas. Ada pula beberapa obat yang ditandai lingkaran biru, artinya obat ini masih boleh diperoleh dengan bebas tapi dalam jumlah terbatas. Kebanyakan obat bebas untuk pereda batuk/pilek termasuk dalam golongan ini. Jadi, Bu-Pak, bila tak ada tanda lingkaran hijau atau biru, berarti obat tersebut bukan obat bebas, melainkan harus ditebus dengan resep dokter.

Yang bikin bingung, saat ini banyak obat bebas dengan berbagai merek ditawarkan. Nah, mana yang harus dipilih? Menurut Waldi, sesuaikan yang rasanya disukai si kecil. Jadi, kita bisa pilih merek apa saja asalkan sesuai selera si kecil; entah dengan rasa stroberi, jeruk, anggur, atau lainnya. Yang penting diperhatikan, selain obat itu memang benar obat bebas dalam arti ada tanda lingkaran hijau atau biru di kemasannya, juga obat itu memang boleh diberikan untuk usia bayi/anak. Jangan lupa, lihat tanggal kadaluarsanya. Setelah obat diperoleh, selalu baca lebih dulu catatan penjelasan yang terlampir dalam kemasan. Di situ tertera antara lain dosis dan jadwal pemberian serta efek sampingnya.

Bila si kecil tak jua sembuh setelah diberi obat, “jangan langsung ganti obat karena tak ada obat bebas yang bisa menghilangkan penyakit dengan seketika.” Bukankah semua obat butuh proses untuk menyembuhkan? Misal, si kecil panas. Sudah dua kali diberi obat A tapi belum juga turun, lalu diganti obat B ternyata langsung turun. Jangan buru-buru bilang obat B manjur sementara obat A tak manjur. Pasalnya, kebetulan panas si kecil memang sudah waktunya turun ketika diberikan obat B. Jadi, Bu-Pak, jika si kecil tak langsung sembuh, jangan cepat-cepat ambil kesimpulan, obat itu kurang manjur.

Lagi pula, bisa terjadi si kecil tak kunjung sembuh lantaran obatnya diberikan dengan dosis yang salah. Misal, si kecil yang baru berusia 5 bulan punya badan agak besar untuk anak seusianya. Berarti, dosis yang tertera di brosur dengan kalimat “untuk bayi di bawah 6 bulan” tentu enggak pas bila diberikan kepadanya. Nah, untuk tahu dosis yang tepat, si kecil mau tak mau perlu dibawa ke dokter.

Tak hanya itu, untuk pemberian obat telan harus pula memperhatikan sendok takar yang tersedia dalam kemasannya. Soalnya, ukuran sendok takar berbeda dengan sendok teh yang ada di rumah. Memang, di brosur penjelasan selalu ditulis “tiga kali sehari satu sendok teh”. Pengertian satu sendok teh dalam brosur berasal dari bahasa Latin yang artinya satu sendok dengan volume 5 ml. Tentu bukan salah kita, ya, Bu-Pak, jika akhirnya kita gunakan sendok teh rumah tangga karena kita umumnya, kan, nggak ngerti beda sendok teh rumah tangga dengan sendok takar. Namun setelah membaca penjelasan ini, hendaknya kita tak salah lagi. Jadi, gunakan selalu sendok takar. Jika dalam kemasan tak terdapat sendok takar, kita bisa mendapatkannya di apotik.

JADWAL DAN LAMA PEMBERIAN

Perhatikan pula jadwal pemberian obat; sesuaikan dengan yang tertera di brosur. Maksimal pemberian biasanya 4 kali sehari. Dengan demikian, jarak pemberiannya 6 jam. Jangan lupa, satu hari sama dengan 24 jam. “Namun sering orang tak menghitung seperti itu. Banyak yang menghitung satu hari hanya 12 jam hingga jadwal pemberian obat bila dibagi 4 hanya 3 jam sekali. Ini jelas salah,” tutur Waldi. Apalagi bila obat hanya diberikan waktu siang, sedangkan malamnya tak diberi. Ini, kan, enggak efektif.

Namun, bukan berarti jadwal pemberiannya harus persis sekali, lo. Misal, harus setiap 6 jam teng. Tak sekaku itu, kok, Bu-Pak. Jadi, jadwalnya bisa ditawar. Misal, jadi 5 atau 7 jam. Bukankah sering terjadi jadwal pemberian obat pas ketika si kecil sedang tidur nyenyak tengah malam? Nah, kalau sudah begini, si kecil enggak perlu dibangunkan tapi ketika ia bangun untuk minta minum, berikan obatnya.

Lazimnya diperkenankan mencoba memberikan obat bebas selama 2-3 hari saja. Selebihnya, sebaiknya segera menghubungi tenaga kesehatan untuk memastikan apa penyakit dan pengobatannya. Tentu ada kasus yang tak perlu menunggu 2-3 hari dan dicoba-coba dengan obat, seperti bila si kecil muntah terus-menerus, kejang, atau tampak tak sadar.

Nah, sekarang sudah enggak takut lagi, kan, memberi obat bebas pada si kecil?

CONTOH OBAT BEBAS YANG BEREDAR DI PASARAN

* Obat luar (cair, salep, bedak): terdiri obat antiseptik untuk luka seperti boorwater, rivanol, povidone, iodine, merkurokrom; dan obat gatal yang mengandung kalamin.

* Obat sirup pereda panas: biasanya mengandung parasetamol atau asetaminofen. Ada juga obat pereda panas yang mengandung metamizol, asetosal, ibuprofen, dan mefenamat.

* Obat pereda batuk/pilek atau hidung mampet: mengandung enilpropanolamin, difenhidramin, bromheksin

* Larutan rehidrasi: seperti pedialyte, renalyte, oralit, dan pharolit.

Source : Tabloid Nakita

Leave a Reply