kelahiran Nadhra

Dikirim oleh yudith d untuk Kelahiran Caesar

Ketika dinyatakan mengandung, perasaanku campur aduk. Senang, sudah pasti karena sudah hampir 1,5 tahun sejak pernikahan kami akhirnya anugrah itu datang juga. Cemas, karena pada saat itu aku baru 1 bulan kerja di salah satu perusahaan  dan masih dalam masa kontrak. dikhawatirkan kehamilan akan membuat kontrak kerjaku diputus. Tapi porsi rasa senang itu lebih besar ketimbang cemas….dengan segala pengharapan baik dan rasa syukur kehamilan itu pun aku jalani dengan antusias. Alhamdulillah tidak ada hambatan berarti selama masa kehamilan. Mual2 dan ngidam sama sekali tidak kualami. Semua berjalan biasa, bahkan aku berusaha tetap perform dan menjalani pekerjaan seperti biasa. Lembur sampai jam 2 pagi pun masih sanggup aku jalani. persiapan menjelang kelahiran juga kuikuti dari mulai ikut senam hamil, berlatih hypnobreathing melalui cd dan buku2 sampai dengan latihan mengejan dan pernapasan.

Kelahiran bayiku diperkirakan pada akhir Desember 2008. Namun sampai lewat waktu yang diperkirakan, si dede belum juga menampakan tanda2 mau keluar. sampai akhirnya di minggu ke 42, ketika periksa rutin dokter menemukan bahwa bayiku terlilit sehingga sulit menemukan jalan lahir. lilitannya longgar di leher sehingga masih diprediksi bisa lahir normal.

tanggal 9 Januari 2009 pagi, aku dijadwalkan untuk induksi. Jam 8 pagi aku beserta suami dan ayahku berangkat ke rumah sakit untuk induksi. terus terang aku khawatir mengingat cerita orang2 bahwa induksi itu sakitnya dua kali lipat dari mules normal. induksi pun dilakukan. sampai 6 jam kemudian tidak ada reaksi apapun, mules dan pembukaan sama sekali tidak ada. Induksi ke dua kembali dilakukan. sampai dengan besok paginya setelah induksi ke tiga dilakukan, belum juga ada tanda2 mules ataupun pembukaan. upaya terakhir dilakukan, melalui pemasangan balon di mulut rahim. tapi ternyata 12 jam sejak pemasangan balon belum juga ada mules, hanya pembukaan mulai masuk pembukaan 1. Aku yang semula takut akan sakit induksi dan mules akhirnya justru berharap segera mules, supaya bayi cepat keluar. lumayan stress menyaksikan satu persatu ibu  yang sama2 berada di ruang observasi akhirnya melahirkan sementara aku sudah 3 hari namun belum ada tanda2 akan melahirkan.

Di penghujung hari ketiga, tanggal 11 Januari 2009, dokter sudah menyarankan aku untuk melakukan caesar. aku masih bertahan karena takut dengan operasi dan sangat ingin melahirkan normal. Keluargaku berusaha meyakinkan bahwa mungkin caesar memang jalan terbaik untukku dan bayiku. Rasa takut dan khawatir campur jadi satu.

Akhirnya aku mengalah, meski dengan uaraian air mata karena tidak pernah sedikitpun terpikir olehku akan melahirkan dengan jalan caesar. harapan untuk merasakan detik2 kelahiran bayiku, mengejan dan mempraktekkan segala teori yang sudah kupelajari pun pupus sudah. Aku masuk ruang operasi sendirian, menangis dan ketakutan. bayangan akan kematian terasa begitu dekat. bagaimana kalau salah bius dan aku lumpuh separuh badan seumur hidup? bagaimana kalau operasinya gagal dan aku nggak bangun2 lagi ? pertanyaan2 itu terus bermain di benakku. Hanya karena rasa cinta pada makhluk mungil di rahimku-lah yang membuatku sedikit tenang. Apapun yang akan terjadi padaku, aku ikhlas asal bayiku selamat. jujur saja, baru sekali itu aku merasakan rela mengorbankan apapun bahkan nyawaku sendiri untuk orang lain. untuk seorang bayi yang bahkan belum pernah kulihat.

Untungnya paramedis yang bertugas baik2 dan berusaha mengajakku ngobrol biar nggak tegang. Anestesinya pun nggak terasa sama sekali. Tepat jam 20.25  aku mendengar tangis pertama putriku. Tidak ada kebahagiaan yang dapat melebihi moment itu, bahkan hingga saat inipun aku masih sering berkaca2 mengingat moment itu. Ucap syukur tak berkesudahan keluar dari bibirku sambil mendengarkan jeritan anakku yang sedang dibersihkan. sempat aku berteriak bertanya pada tim dokter “lengkap nggak, Dok ? sempurna kan ?” yang dijawab senyum oleh mereka. Lalu ‘sebuntal kebahagian’ itu pun ditunjukan padaku, walau hanya beberapa detik, menghapus semua kekhawatiran, rasa cemas dan takut yang sebelumnya menggunung. Ia terlahir sempurna, sehat dan lengkap. malaikat kecilku, NADHRA MUMTAZA.

Dulu kupikir belum afdol rasanya jadi ibu kalau tidak mengalami proses kelahiran normal seperti mengejan dan mules2. Tapi setelah melahirkan secara caesar aku tahu, menjadi ibu bagaimanapun prosesnya tetaplah sama. Perjuangan mengalahkan rasa takut kita saat berada di meja operasi dan rasa sakit yang dirasakan pasca operasi menjadi salah satu pengikat batin bagiku dan bayiku. Sekarang putriku sudah 14 bulan, dan benar2 menjadi cahaya bagi keluarga kami.

Leave a Reply