Banyak Jalan Menuju Normal

Dikirim oleh Evariny A. untuk Makan minum & gizi Seputar Melahirkan

Banyak jalan menuju Roma. Demikian pepatah yang berpesan bahwa ada lebih dari satu cara untuk menyelesaikan sebuah masalah. Bagi ibu-ibu zaman sekarang, pepatah tersebut bisa berbunyi begini: banyak jalan melahirkan normal. Soal rasa takut dan rasa sakit, bisa disiasati.

Rasa takut lah yang antara lain memicu para wanita melahirkan secara tidak normal: Lewat bedah caesar, kendati tanpa indikasi medis –selain faktor nonteknis lain seperti tawaran dokter. Pembelahan perut yang secara medis berisiko besar itu, bahkan seolah menjadi tren.

”Orang bersalin itu problem terbesarnya rasa cemas dan takut. Bila sumber ketakutan dan kecemasan teratasi, biasanya rasa nyerinya bisa ditolerasi,” kata dr Rukmono Siswihanto SpOG, konsultan Fetomaternal Bagian Obstetri dan Ginekologi RS Dr Sardjito/FK UGM, di Yogyakarta, pekan lalu.

Menurut kesimpulan sejumlah ahli kandungan, rasa takut itulah yang justru membuat melahirkan menjadi sakit. Rasa takut membuat otot polos di dalam tubuh menjadi tegang, pembuluh darah menyempit, pasokan oksigen berkurang, mulut rahim kaku, dan impuls sakit di rahim bertambah.

Tak heran wanita yang takut, tapi terpaksa melahirkan secara normal di atas tempat tidur, mengalami rasa sakit luar biasa. ”Rasa sakit melahirkan normal tak bisa dikatakan,” kata Liz Adianti (33 tahun), yang melahirkan anak pertamanya secara normal pada tahun 2002.

Tapi, rasa takut dan rasa sakit belum perlu berakhir caesar yang diiringi pembiusan dan proses cepat. Ada beberapa cara mengatasi dan mengendalikannya, agar persalinan tetap berlangsung normal. Antara lain dengan hypnobirthing dan waterbirth.

Hypnobirthing dan waterbirth, memiliki beberapa persamaan. Antara lain membuat ibu yang melahirkan lebih tenang dan relaks. Sikap tersebut efektif memerintah otak untuk mengalirkan endorfin, semacam morfin alami di dalam tubuh, untuk memblok rasa sakit.

Hypnobirthing mulai diterapkan di Indonesia pada tahun 2003. Inisiatornya adalah Lanny Kuswandi. Menurut mantan bidan RS St Carolus, ini, rasa takut dan rasa sakit lebih banyak disebabkan rekaman negatif yang tertanam di bawah sadar ibu hamil: Bahwa melahirkan itu sakit.

Memori serupa, kata Lanny, tak didapati di alam bawah sadar suku-suku pedalaman. ”Itu sebabnya mereka melahirkan secara nyaman,” ungkap terapis di Klinik Pro V dan RS Bunda ini, di Jakarta, pekan lalu.

Inti dari hypnobirthing, tutur Lanny, adalah menetralisasi rekaman bawah sadar itu. ”Kita harus sadar bahwa tubuh kita diciptakan luar biasa. Kalau tenang saat melahirkan, tubuh otomatis mengeluarkan endorfin. Sehingga banyak yang tak merasa sakit,” katanya.

Seberapa besar rasa sakit yang bisa dikurangi hypnobirthing? ”Rata-rata 50 persen,” kata Lanny. Lanny yang mempraktikkan cara itu saat melahirkan anak keduanya, bahkan mengatakan rasa sakitnya susut sampai 80 persen. ”Perut hanya kencang sebentar,” katanya.

Kendati bernama hypnobirthing, Lanny mengatakan kesadaran ibu yang melahirkan tidak dikontrol instruksi-instruksi eksternal. ”Hypnobirthing adalah sarana alami untuk membangkitkan yang ada dalam diri kita. Ibu yang melahirkan 100 persen sadar,” katanya.

Menerapkan hypnobirthing, kata Lanny, bahkan tak harus dengan mengikuti kelas. Cara itu bisa diterapkan dengan membaca buku dan menonton VCD tentang hypnobirthing. ”Tapi, untuk yang stres-nya tinggi, sebaiknya ikut kelas bersama suami,” katanya.

Saat hari H, ibu hamil yang mempraktikkan hypnobirthing, tak perlu ditemani terapis. Seorang suami, kata Lanny, sudah cukup. ”Makanya suami sebaiknya ikut terlibat, karena persoalan melahirkan bukan cuma persoalan istri, tapi juga suami dan anak,” jelasnya.

Hypnobirthing pun, kata Lanny, bisa dikombinasikan dengan waterbirth. Di Indonesia, kombinasi itu sudah pernah diterapkan, dan Lanny mengawasi dari dekat. Tapi, karena masih langka, belum bisa diukur seberapa efektif pengaruh kombinasi itu.

Adapun pengurangan rasa sakit pada waterbirth, menurut dr Otamar Samsudin SpOG, terjadi karena ibu melahirkan lebih relaks, sehingga merangsang tubuh mengeluarkan endorfin. ”Melahirkan di air anget kan nyaman,” katanya di Jakarta, pekan lalu.

Air yang mempunyai daya apung, tutur Otamar, menghilangkan tekanan pada tubuh. Air sendiri, kata Otamar, adalah zat yang efektif menghilangkan rasa sakit. ”Kalau jalan di laut kena tiram, nggak terasa kan. Setelah istirahat di pantai baru terasa perih,” katanya.

Air juga zat yang melunakkan. ”Kalau jalan lahir lembek, rasa sakit akibat gesekan kepala bayi berkurang. Makanya lebih lentur, sehingga seringkali tak perlu episiotomi atau pengguntingan perineum (bibir vagina, red),” katanya.

Otamar telah menangani dengan sukses 68 persalinan di dalam air. Tidak ada yang harus mengalami pengguntingan. ”Kalau dijahit ada. Soalnya yang pandai mengejan hanya empat orang,” katanya. Namun, waterbirth punya keterbatasan.

Keterbatasan waterbirth itu bisa diatasi persalinan normal dengan hypnobirthing. Kalaupun cara ini tidak ditempuh, bukan berarti pisau bedah harus bicara. Sebab masih ada cara melahirkan normal minus rasa sakit dengan menjalani analgesia epidural.

Ada dua metode analgesia epidural, yaitu spinal epidural analgesia (SEG) dan intrathecal labor analgesia (ILA).Pada kedua metode ini, tutur Rukmono, saraf-saraf sensorik diblok dengan memasukkan obat ke epidural atau tulang belakang. Di antaranya morfin 0,25-0,3 mg.

Kedua metode ini dinilai baik untuk penderita diabetes, kelainan kardiovaskular, penyakit paru-paru, penyakit ginjal, dan penyakit hati.

Adapun caesar, tak ubahnya emergency exit. Dia hanya bisa diterapkan pada kondisi darurat. Atau dalam bahasa politik, karena ada kegentingan yang memaksa. Kegentingan memaksa itu diputuskan oleh satu hal: adanya indikasi medis.

Indikasi medis itu antara lain ari-ari menutup jalan lahir, letak bayi sungsang, persalinan normal berlangsung lama dan dikhawatirkan berujung kelelahan dan kegagalan persalinan, dan ibu hamil mengidap herpes genital, HIV/AIDS, dan hipertensi.

Sekarang tinggal pilih, cara nonfarmakologik (tanpa obat-obatan) seperti hypnobirthing dan waterbirth, atau cara farmakologik seperti analgesia epidural bahkan intervensi pisau bedah. ”Cara natural yang paling baik. Mestinya persalinan normal tak dilanggar,” kata Rukmono.

Karena normal dan natural, persalinan waterbirth dan hypnobirthing minim efek samping. Lanny Kuswandi mengatakan hypnobirthing nyaris tak punya efek samping. Adapun Otamar Samsudin mengatakan waterbirth sama saja dengan persalinan biasa.

Yang sering dipertanyakan seputar waterbirth, kata Otamar, adalah apakah mulut dan hidung bayi tidak akan kemasukan air atau tenggelam. Otamar menjelaskan, bayi belum bernapas saat berpindah dari rahim ke dalam air. Di dalam air, bayi masih bernapas lewat plasenta.

”Saat diangkat dari air, baru bayi menangis dan menarik napas pertama,” ungkap Otamar.

Kondisi demikian terjadi karena suhu di dalam rahim dan suhu air dijaga tetap sama, yaitu sekitar 36-37 derajat Celsius. Karena itu, saat bayi berada di air, dia tidak mengalami perubahan suhu. Perubahan suhu lah, kata Otamar, yang membuat bayi-bayi lahir langsung menangis.

Adapun risiko caesar, menurut data Departemen Kesehatan: dari sisi kematian ibu, caesar punya risiko empat kali lipat. Dari sisi kematian bayi, dua sampai tiga kali lipat.

Bila ada yang lebih baik, mudah, dan murah, mengapa harus memilih yang mahal dan berisiko?

sumber : Republika

Leave a Reply